Arkeolog menyebut tambang emas empat kilometer dari Gunung Padang masih memproduksi emas. Dokumen pemiliknya memberi cerita lain. Usia situsnya pun memiliki tiga versi.
KOSONGSATU.ID — Makalah setebal 25 halaman itu hanya sempat dipajang lima bulan di jurnal. Tanah yang diujinya berumur sekitar 27.000 tahun. Soal siapa yang lebih awet, tanah menang telak.
Lalu muncul bumbu baru. Arkeolog Universitas Indonesia, Ali Akbar, menyebut sebuah tambang emas berjarak sekitar empat kilometer dari Gunung Padang.
Menurutnya, tambang itu hingga kini masih memproduksi emas. Kalimat semacam itu mudah sekali dibaca sebagai petunjuk besar.
Sebelum ikut curiga, mari menghitung dulu.
Yang Dicabut Itu Kesimpulannya, Bukan Tanahnya
Makalah itu dimuat daring pada 20 Oktober 2023 di jurnal Archaeological Prospection, hasil kerja 12 peneliti Indonesia.
Tapi Wiley, penerbit ilmiah asal Amerika Serikat, mencabutnya pada 18 Maret 2024.
Menurut Ali Akbar, penelaahan sejawat sebelum dimuat memakan sembilan hingga sepuluh bulan. Itu hampir dua kali lebih lama daripada masa tayangnya.
Alasan resminya tertulis di pemberitahuan pencabutan. Penanggalan radiokarbon, metode menaksir umur lewat peluruhan karbon, diterapkan pada sampel tanah. Sampel itu tidak terkait artefak atau fitur yang bisa ditafsirkan sebagai buatan manusia. Itulah yang disebut Wiley sebagai kesalahan besar.
Bill Farley, arkeolog dari Southern Connecticut State University (Universitas Negeri Connecticut Selatan), mengatakan kepada jurnal Nature bahwa tanah itu memang berumur sekitar 27.000 tahun.
Namun, tanah itu disebutnya tidak menyimpan jejak aktivitas manusia, seperti arang atau serpihan tulang.
Para penulis menolak putusan itu. Penulis utama, Danny Hilman Natawidjaja, menilai Wiley tak menyodorkan bukti dan alasan ilmiah yang cukup.
Ali Akbar menyebut prosesnya janggal. Ia mengetahui adanya penyelidikan dari berita Nature pada 28 November 2023, sedangkan surat resmi untuk para penulis baru tiba pada 1 Desember.
Kubu seberang pun mengakui pencabutan seperti ini langka. Arkeolog Flint Dibble dari Cardiff University (Universitas Cardiff, Wales) menduga penyebabnya rasa malu penyunting jurnal.
Ia sendiri menandai dugaan itu sebagai tebakan.
Satu hal lain patut dicatat. Dalam pemberitahuan Wiley, tak ada satu kalimat pun tentang mineral, tambang, atau emas.
Satu Bukit, Tiga Umur
Versi pertama datang dari makalah yang dicabut: bukit itu disebut dipahat manusia antara 25.000 dan 14.000 tahun lalu.
Tahap-tahap berikutnya jatuh pada 8.000–7.500 dan 4.000–3.100 tahun lalu.
Versi kedua milik Lutfi Yondri, arkeolog yang lama menggali di situs itu. Arang di bawah dinding penahan teras pertama bertarikh sekitar 117 SM.
Arang di teras kedua dan keempat bertarikh sekitar 50 SM. Artinya sekitar 2.000 tahun, dan menurut Yondri teras-teras itu dibangun lintas generasi.
Yondri juga menegaskan Gunung Padang bukan piramida, melainkan punden berundak.
Versi ketiga paling baru. Jumat, 28 November 2025, tim kajian dan pemugaran bentukan Kementerian Kebudayaan, yang diketuai Ali Akbar, mengumumkan hasil uji karbon.
Sampelnya berasal dari teras kelima pada kedalaman empat meter, dan hasilnya 6.000 sebelum Masehi.
Dihitung dari 2026, itu sekitar 8.000 tahun: kurang dari sepertiga klaim makalah dan hampir empat kali lipat tarikh Yondri.
Angka itu bersinggungan dengan tahap kedua makalah yang dicabut. Namun teras dan kedalaman sampelnya berbeda, sehingga belum bisa disebut konfirmasi.
Satu bukit, tiga umur. Kalau ini KTP, petugas dukcapil pasti pusing.
Pemerintah memilih jalan tengah berupa istilah. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut punden berundak sebagai “piramida Indonesia” dan berharap kajiannya memperkuat jati diri bangsa.
Pemugaran dibuka Senin, 15 Desember 2025, dengan pola kemitraan pemerintah dan swasta. Pengusaha peduli kebudayaan turut digandeng.
Tambang yang Belum Juga Menambang
Klaim empat kilometer itu bukan barang baru. Pada Juni 2012, Ali Akbar sudah menyebutnya berdasarkan wawancara dengan seorang penambang tua.
Penambang itu menuturkan bahwa tambang tersebut dikerjakan sejak zaman penjajahan Belanda. Saat itu Ali Akbar menegaskan timnya tidak mencari emas.
Pada Februari 2024, hipotesisnya melebar. Situs itu, menurutnya, dibangun masyarakat menetap yang sejahtera dan sudah mengenal logam.
Emasnya, menurut hipotesis itu, diperdagangkan lewat Pelabuhan Ratu.
Tambang emas berizin yang kami temukan di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, tempat situs itu berdiri, milik PT Cikondang Kancana Prima (CKP).
Cadangan terbuktinya 150.000 ons, sekitar 4,7 ton. Targetnya sekitar 622 kilogram per tahun.
Antam (PT Aneka Tambang) menyebut produksi Pongkor dan Cibaliung pada 2016 sebesar 1.015 kilogram. Target CKP kira-kira enam per sepuluhnya.
PT Indo-Rama Synthetics Tbk menuntaskan akuisisi 80% saham CKP pada 24 Februari 2021, lalu menargetkan produksi pada kuartal pertama 2024.
Pada Mei 2023, CKP sendiri menyebut proyeknya masih tahap kajian. Kamis, 14 Agustus 2025, Bisnis.com melaporkan tambang itu belum menjalankan operasi hingga pertengahan 2025.
Perlu hati-hati di sini. Belum terbukti CKP adalah tambang yang dimaksud Ali Akbar.
Penambangan rakyat di sekitar situs pun belum bisa kami kesampingkan.
Rumor emas di dalam situs lebih besar daripada kenyataan. Menurut Yondri, beredar isu situs menyimpan emas hingga 10 ton, padahal penggalian warga tak memberi hasil.
Angka 10 ton itu lebih dari dua kali cadangan terbukti seluruh izin CKP.
Warga, Peziarah, dan Soal yang Belum Dijawab
Gunung Padang bukan sekadar objek debat gelar. Peziarah dari tradisi Islam dan Hindu sudah lama mendatangi puncaknya untuk ritual.
Pada Juli 2025, Ali Akbar menyebut tim akan melibatkan warga sekitar untuk membantu para ahli.
Rumor emas, di sisi lain, ikut mendorong penggalian warga yang tak membuahkan apa-apa.
Pertanyaannya masih menumpuk. Laboratorium, jenis bahan, dan angka kalibrasi sampel 6.000 SM belum kami temukan di sumber mana pun.
Jarak empat kilometer itu diukur dari titik mana ke tambang mana juga belum dijelaskan.
Konfirmasi langsung dari Ali Akbar, Danny Hilman, Kementerian Kebudayaan, dan pihak CKP belum kami peroleh.
Satu-satunya saksi soal emas yang pernah dikutip, seorang penambang tua pada 2012, tak disebut namanya.
Jadi, tiga angka usia, satu tambang yang belum juga menambang, dan satu saksi tanpa nama.
Kalau ini teka-teki, pembuat soalnya lupa melampirkan kunci jawaban.***




Tinggalkan Balasan