AS siap mempertahankan blokade Iran, sementara Teheran mengancam balasan lebih luas. Keamanan pelayaran dan program nuklir menjadi persoalan utama.

KOSONGSATU.ID — Ancaman serangan baru Amerika Serikat terhadap Iran menempatkan keamanan pelayaran di Selat Hormuz dan infrastruktur energi Teluk dalam sorotan.

Washington menyatakan siap menghadapi kebuntuan berkepanjangan. Teheran memperingatkan bahwa serangan baru akan dibalas dengan sasaran lebih luas.

Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz mengatakan pemerintahnya dapat melanjutkan blokade terhadap pelabuhan Iran, menurut laporan Financial Times, Jumat, 23 Oktober 2026.

“Presiden dan Angkatan Laut AS dapat mempertahankan blokade ini untuk masa mendatang,” kata Waltz, sebagaimana dikutip Iran International.

Washington tetap menginginkan kesepakatan tentang pengayaan uranium serta penanganan material nuklir Iran yang diperkaya tinggi.

Analisis Al Jazeera menyoroti perubahan sejak perang dimulai pada Februari: jalur pelayaran dan fasilitas energi kini menjadi bagian penting dalam konfrontasi kedua negara.

Apa yang Terjadi di Selat Hormuz?

Iran menyatakan tujuh kapal tanker terbakar atau rusak di sekitar Selat Hormuz. Associated Press pada 22 Oktober melaporkan bahwa klaim itu belum dapat diverifikasi secara independen.

Sebagian tanker tetap melintas dengan perlindungan militer AS. Namun, risiko serangan dan pemindahan muatan antarkapal meningkatkan biaya serta waktu pengiriman.

Artinya, berlanjutnya pengiriman minyak belum menunjukkan bahwa pelayaran telah kembali aman.

Kekhawatiran eskalasi turut memengaruhi pasar energi. The Guardian melaporkan harga Brent mencapai USD114,72 per barel pada Jumat, tertinggi sejak Mei.

Iran juga mengancam memperluas sasaran balasan jika AS dan Israel kembali menyerang.

Menurut The Wall Street Journal, ancaman tersebut mencakup pangkalan militer AS, kapal perang, bandara, serta jaringan pipa di negara-negara Teluk.

Laporan itu menyebut Iran masih memiliki persediaan rudal dan pesawat nirawak. Serangan lanjutan berpotensi membahayakan fasilitas sipil dan pasokan energi kawasan.

Apakah Serangan Baru Sudah Diputuskan?

Belum. Iran International, mengutip The Atlantic, melaporkan bahwa Presiden Donald Trump mempertimbangkan serangan setelah pemilihan paruh waktu AS pada 3 November.

Namun, pejabat AS menegaskan keputusan untuk melanjutkan serangan belum dibuat. Laporan mengenai opsi militer tersebut belum merupakan pengumuman operasi.

Pada saat yang sama, jalur diplomasi belum sepenuhnya terputus. Associated Press melaporkan bahwa kontak tidak langsung antara Washington dan Teheran masih berlangsung.

Iran menawarkan pembukaan penuh Selat Hormuz dengan sejumlah persyaratan, termasuk penghentian blokade AS terhadap pelabuhannya.

Washington menggunakan tekanan ekonomi untuk mendorong kesepakatan nuklir. Iran menempatkan pencabutan blokade sebagai tuntutan penting dalam penyelesaian konflik.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa perundingan kini perlu membahas program nuklir sekaligus keamanan pelayaran. Kesepakatan pada satu persoalan belum tentu menyelesaikan persoalan lainnya. ***