Tanpa pedang, para wali menyusupkan rukun Islam ke dalam figur singa, mahkota, dan kelopak pandan. Jejaknya masih tersimpan di museum hingga hari ini.

KOSONGSATU.ID – Wali Songo tidak hanya berdakwah dari mimbar. Menurut tradisi tutur di pesisir utara Jawa, para penyebar Islam abad ke-15 hingga ke-16 itu juga memakai selembar kain batik untuk menyusupkan ajaran tauhid ke tengah masyarakat.

“Senjata” kultural itu kembali dibicarakan saat Hari Batik Nasional diperingati hari ini, Jumat, 2 Oktober 2026. Puncak perayaan bertajuk “Batik Berlayar” digelar di Dermaga Kapal Taman Prestasi, Surabaya.

Strategi para wali bekerja lewat simbol. Mereka tidak membuang tradisi membatik yang sudah mengakar, tetapi mengubah coraknya. Figur hewan dan manusia sengaja digambar tidak utuh.

Rukun Islam di Balik Motif Singa

Contoh paling gamblang tersimpan di Lamongan. Museum Sunan Drajat, yang diresmikan pada 1 Maret 1992, menyimpan koleksi Batik Drajat bermotif Singo Mengkok.

Motif itu memuat figur singa, mahkota, dan kubah masjid. Singa melambangkan kebijaksanaan untuk menangkal watak jahat, sedangkan kubah masjid merujuk pada keesaan Tuhan.

Pesan paling tersembunyi justru terletak pada detail kecil. Motif itu memuat trap limo, yakni undakan lima tingkat yang melambangkan rukun Islam.

Sunan Drajat, putra Sunan Ampel, memang dikenal menjadikan seni sebagai sarana dakwah. Nama Singo Mengkok juga dipakai untuk seperangkat gamelan peninggalannya.

Pola serupa ditemukan di Gresik. Tradisi setempat mengenal motif Mahkota Giri yang melambangkan lima rukun Islam. Ada pula Sekar Pudak, dengan enam kelopak bunga pandan sebagai simbol rukun iman.

Dakwah dan Canting di Tangan yang Sama

Di Cirebon, “senjata” itu dipegang langsung oleh pendakwahnya. Ki Gede Trusmi, pengikut setia Sunan Gunung Jati, dikisahkan mendakwahkan Islam sekaligus mengajari warga membatik.

Makamnya masih diziarahi hingga kini. Desa Trusmi dan sekitarnya pun berkembang menjadi sentra yang dihuni lebih dari 3.000 perajin batik.

Motif Mega Mendung, ikon batik Cirebon, juga dikaitkan dengan pernikahan Sunan Gunung Jati dan Putri Ong Tien. Para pembatik keraton memadukan unsur Tiongkok dengan cita rasa Cirebon.

Sementara itu, Sunan Kalijaga dikenang lewat surjan, busana yang dimaknai sebagai pakaian takwa. Sang Sunan juga disebut memperkenalkan motif burung pada batik.

Di Kudus, jejak serupa hadir lewat batik pesisiran dengan isen-isen yang halus dan rumit. Karena kehalusannya, batik ini juga dikenal sebagai batik saudagaran.

Warisan yang Berpindah Tangan

Lima abad kemudian, “senjata” itu berada di tangan 3.196 unit usaha batik yang tercatat Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Sentranya tersebar di 23 provinsi.

Pasar luar negeri belum sepenuhnya ramah. Ekspor batik pada triwulan II 2026 tercatat USD4,39 juta, terkontraksi 13,76 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita menyebut pembeli utama warisan para wali itu tetap berada di rumah sendiri. “80 persen manufaktur dijual dalam negeri, begitu juga dengan batik,” kata Reni.***