Kisah Kiai Tar saat nyantri di Tambakberas. Di bawah pohon sawo, ia menyaksikan langsung “perang doa” penahan hujan antara Kiai Wahab dan Kiai Hamid, serta menerima ijazah spiritual di balik kesederhanaan menyapu pelataran pondok.

KOSONGSATU.ID – Sore itu, di bawah bayang-bayang zaman pendudukan Jepang yang muram, angin berhembus perlahan menyapu pelataran Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas.

Di bawah rimbunnya pohon sawo kembar—pohon yang kelak dicatat oleh sejarawan Peter Carey sebagai sandi rahasia laskar Pangeran Diponegoro—seorang santri muda mengayunkan sapu lidinya dengan takzim. Ia membersihkan dedaunan kering, memelihara lingkungan pondok, sembari telinganya sayup-sayup menyimak sang guru, Kiai Hamid Chasbullah, menderes Al-Qur’an seusai asar.

​Santri muda itu bernama Mukhtar Mu’thi, yang puluhan tahun kemudian kita kenal sebagai Kiai Tar, Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah.

​Bagi Mukhtar muda, belajar kepada Kiai Hamid—adik dari pahlawan nasional KH. Wahab Chasbullah—tidak pernah berhenti pada barisan kalimat dalam kitab Tafsir Jalalain atau kerumitan tata bahasa Nahwu dan Sharaf. Ilmu justru meresap dari hal-hal pinggiran yang kerap luput dari mata sejarah: dari selembar daun sawo yang gugur, dari debu pelataran yang disapunya, dan dari sebuah ironi kecil tentang hujan yang turun di langit Jombang.

​Kepingan Sawo dan Ironi Hujan

​Pohon sawo di masa lalu bukan sekadar peneduh. Dalam lanskap pergerakan Islam Nusantara, ia adalah saksi bisu berbagai laku spiritual. Kiai Hamid Chasbullah memiliki cara yang unik dalam mendidik santrinya melalui pohon ini. Beliau kerap membuat kepingan kayu sawo berukuran 12×12 sentimeter.

Di sepertiga akhir malam, saat alam masih diselimuti gulita, kepingan itu digores menggunakan paku untuk menuliskan ayat-ayat tertentu. Serbuk dari goresan itulah yang kelak diminumkan kepada santri demi membukakan pintu kecerdasan batin.

​Namun, kedekatan batin antara kiai dan santri ini paling indah terekam dalam sebuah peristiwa “konflik” langit antara dua bersaudara, Kiai Wahab dan Kiai Hamid.

​Suatu hari, kemarau panjang mendera. Kiai Wahab mengajak para santrinya, termasuk Mukhtar muda, untuk merapal ayat tertentu guna memancing hujan. Di sisi lain, Kiai Hamid sedang sibuk mencetak batu bata merah yang tentunya butuh panas matahari terik agar cepat kering.

Mengetahui para santri baru saja “memanggil hujan” bersama kakaknya, Kiai Hamid tersenyum simpul. Ia lantas memerintahkan santri-santri yang sama untuk mengelilingi tempat pembuatan batu batanya sembari membaca ayat penolak hujan.

​Hasilnya? Sore itu hujan menderas membasahi seluruh kawasan Tambakberas, kecuali di satu titik: area penjemuran batu bata milik Kiai Hamid. Kisah ini tidak hanya menunjukkan karomah, tetapi juga sisi kemanusiaan yang jenaka di balik kewibawaan para ulama besar.

Tuhan mengabulkan doa keduanya, dan santri seperti Mukhtar menjadi agen-agen kecil yang menyaksikan langsung bagaimana ilmu, doa, dan realitas kehidupan berkelindan secara harmonis.

​Ijazah di Balik Sapu Lidi

​Hanya delapan bulan Mukhtar nyantri di Tambakberas. Waktu yang singkat untuk ukuran pendidikan pesantren tradisional. Namun, jejak yang ditinggalkannya mengakar sangat dalam. Suatu ketika, seorang pengurus dari Pesantren Rejoso sowan kepada Kiai Hamid, melaporkan kenakalan Mukhtar di masa lalu.

Bukannya marah, Kiai Hamid merespons dengan kalimat singkat yang menggetarkan: “Mukhtar Ploso ta? Apik arek’e (Mukhtar dari Ploso? Baik anaknya-Red).”

​Penilaian itu bukan tanpa alasan. Kiai Hamid melihat ketulusan di balik keringat santrinya yang tak lelah menyapu halaman. Sebagai bentuk kasih sayang, pada suatu bulan Ramadan, Kiai Hamid memberikan amalan rahasia berupa lima ayat pertama Surah Al-‘Alaq.

Amalan ini bukan sekadar rapal, melainkan jalan untuk membuka hikmah—merubah gulita ketidaktahuan menjadi terang benderang pemahaman.

​Di luar itu, ada pula ijazah potongan ayat Al-Fatihah, “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan), yang harus diakhiri dalam posisi sujud.

Sebuah pesan spiritual yang tegas: setinggi apa pun ilmu yang direngkuh, seorang manusia harus menempatkan dirinya di posisi paling rendah sebagai hamba di hadapan Tuhannya.

​Warisan yang Tumbang di Era Modern

​Waktu terus bergulir. Sabtu pagi, 6 Juli 2019, puluhan tahun setelah masa pendudukan Jepang berlalu, beberapa gus dari Tambakberas menyambangi Kiai Tar di Ploso. Di usia senjanya, sang kiai yang pernah berkelana dari makam Syaikh Asmaraqandi hingga Banten ini, masih mengingat gurunya dengan mata berkaca-kaca, selalu menyematkan gelar “Hadratus Syaikh Kiai Hamid Chasbullah qaddasallah sirrah” setiap kali menyebut namanya.

​Hari ini, pohon sawo kembar peninggalan leluhur di berbagai daerah mungkin banyak yang sudah tumbang, ditebang atas nama perluasan lahan atau bahkan ditebang oleh nalar modernitas yang pongah dan menganggap remeh jejak-jejak masa lalu sebagai sekadar mistik usang. Padahal, pohon sawo itu pernah menjadi laboratorium batin bagi tokoh-tokoh besar bangsa ini.

​Tambakberas mungkin hanya terminal persinggahan sementara bagi seorang Mukhtar Mu’thi. Namun, dari kepingan kayu sawo dan tetes hujan yang tertahan di atas batu bata merah itulah, ia memetik pelajaran terbesar: bahwa sejarah kebesaran seseorang sering kali dimulai bukan dari mimbar yang megah, melainkan dari kepasrahan seorang santri yang menyapu pelataran gurunya di ambang senja.***

 

​Daftar Pustaka

  • Buku: Tambakberas: Menelisik Sejarah Memetik Uswah. (Dokumentasi sejarah pesantren dan testimoni santri).
  • Carey, Peter. (Referensi kajian sejarah terkait laskar Pangeran Diponegoro dan jaringan pohon sawo).
  • ​Wawancara Tim Sejarah Tambakberas (Gus Khuk, Gus Wahab, Gus Lathif) dengan Kiai Mukhtar Mu’thi (Kiai Tar), 6 Juli 2019.
  • Kisah tutur dari KH. Anshori Sechah dan Gus Imron Hamid terkait peninggalan sejarah dan metode pengajaran KH. Hamid Chasbullah.
  • Kisah tutur keluarga Mbah Kiai Kasan Dikromo (Sugihwaras, Nganjuk) terkait mitos masyarakat dan keberadaan pohon sawo.