Dukungan Indonesia terhadap perjuangan Palestina ternyata telah mengakar sejak satu abad lalu. Bukan hanya melalui diplomasi, sejumlah pemuda Indonesia bahkan tercatat gugur di medan laga.
KOSONGSATU.ID – Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Majelis Ulama Indonesia, Bunyan Saptomo, menegaskan bahwa ikatan historis antara Indonesia dan Palestina telah terjalin selama seratus tahun. Jejak keterlibatan ini berhulu pada dekade 1920-an, saat para pelajar Indonesia di Mesir aktif dalam pergerakan dunia Islam.
”Dukungan bangsa Indonesia pada perjuangan bangsa Palestina telah berlangsung sejak 100 tahun yang lalu,” kata Bunyan saat membuka pertemuan Global Coalition for AlQuds & Palestine di Istanbul, Turki, Ahad, 19 Juli 2026.
Ihwal hubungan tersebut, Bunyan menjelaskan bahwa keterlibatan Indonesia melampaui batas dukungan moral. Kedekatan inilah yang kemudian membuat Mufti Besar Palestina bersama para pemimpin dunia Arab memberikan dukungan awal terhadap kemerdekaan Indonesia pada 1945.
Peran Diplomatik Abdul Kahar Muzakir
Salah satu figur sentral dalam sejarah ini adalah Abdul Kahar Muzakir. Saat menuntut ilmu di Mesir pada 1925, sosok yang kelak menjadi anggota Panitia Sembilan BPUPK ini aktif mengonsolidasikan gerakan Islam dunia. Pada 1931, Kahar Muzakir diundang khusus oleh Mufti Besar Palestina, Syaikh Muhammad Amin Al-Husaini, untuk menghadiri Muktamar Islam Internasional di Yerusalem.
Ketua Bidang Tabligh Global dan Kerja Sama Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Fahmi Salim, menyebut Kahar Muzakir sebagai diplomat ulung yang menyuarakan pembebasan Palestina ke dunia internasional. “Abdul Kahar Muzakir ini tokoh Muhammadiyah pertama yang terlibat dalam urusan Palestina,” ujar Fahmi dalam kajian di Jakarta.
Selain Kahar Muzakir, nama Muhammad Rasyidi juga tercatat sebagai penerus perjuangan diplomasi di Timur Tengah. Lewat tulisan-tulisannya, termasuk di surat kabar Suriah, Alif-Ba, Kahar Muzakir gencar mengabarkan semangat perjuangan rakyat Indonesia atau Indonesia Yujahid kepada dunia Arab.
Syuhada Indonesia di Tanah Palestina
Di balik diplomasi, dukungan Indonesia mencapai titik konkret saat sejumlah pemuda mempertaruhkan nyawa dalam perlawanan rakyat Palestina melawan mandat Inggris pada 1930-an. Majalah Pantjaran Amal terbitan Muhammadiyah Cabang Betawi edisi 10 November 1938 mencatat tiga nama syuhada asal Indonesia: Sapulete, Salimin, dan Sultan Ibrahim.
Catatan tersebut diperkuat oleh temuan sejarawan Ridwan Saidi yang pernah bertemu dengan tokoh Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di Yordania pada 1992. Dalam pertemuan itu, pihak Palestina mengakui adanya kontribusi nyata dari pelajar Indonesia yang gugur di medan tempur. Selain nama-nama tersebut, terdapat pula catatan mengenai pemuda lain seperti Jaka, Ahmad, dan Thahir bin Ali yang gugur di berbagai wilayah Palestina, termasuk Gaza dan Jaffa.
Hingga kini, berbagai lembaga di Indonesia terus berupaya merawat warisan sejarah tersebut. Bunyan Saptomo menambahkan, Indonesia kini tengah memproses legalisasi Koalisi Asia Pasifik untuk Al-Quds dan Palestina (APCQP) yang ditargetkan rampung pada 19 Agustus 2026 sebagai langkah konkret solidaritas masa kini.
”Kenangan saya bahwa nama-nama yang tercantum itu telah lebih dahulu mewakili kita bangsa Indonesia; bukan saja menyatakan solidaritas dengan kata-kata, tetapi telah dengan sukarela memberikan jiwa-raga demi agama dan keadilan,” tulis H. Harun Aly dalam majalah Suara Muhammadiyah.***




Tinggalkan Balasan