BMKG mencatat Stasiun Meteorologi Rendani Manokwari membukukan rekor suhu tertinggi hingga 38,6 derajat Celsius di tengah kepungan kemarau ekstrem akibat El Nino.

KOSONGSATU.ID — Wilayah kepala burung Pulau Papua kini mengalami lonjakan suhu udara paling menyengat di Indonesia akibat perubahan drastis dinamika atmosfer global. Cuaca panas ekstrem tersebut menempatkan kawasan timur nusantara berada di garda terdepan dampak kekeringan tahun ini.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan Stasiun Meteorologi Rendani di Manokwari, Papua Barat, mencatat suhu udara menembus rekor 38,6 derajat Celsius. Angka ini menjadi tingkat panas tertinggi yang merusak rata-rata suhu nasional harian.

Suhu menyengat tersebut bergerak selaras dengan perluasan zona kering yang kini telah menjangkau 37,6 persen wilayah indonesia. Fenomena El Nino yang menguat di Samudra Pasifik menjadi motor utama yang menyapu pasokan air dan awan hujan di atas daratan.

“Perluasan musim kemarau ini sejalan dengan hasil pemantauan dinamika atmosfer pada skala global. Region Nino 3.4 tercatat sebesar positif 1,61,” tulis BMKG dalam rilis resminya, Senin, 29 Juni 2026.

Anomali suhu permukaan laut tersebut mengonfirmasi bahwa pasokan curah hujan di wilayah timur akan anjlok drastis di bawah 50 mm per dasarian. Berdasarkan kalkulasi matematis, peluang bertahannya fenomena iklim ini hingga awal 2027 berada di level kuat dengan probabilitas 62 persen.

Meski demikian, dampak hantaman langsung terhadap sektor lingkungan dan penguapan air tanah domestik diproyeksikan mencapai puncaknya hingga Oktober 2026. Pola cuaca kering ini juga dikonfirmasi oleh Biro Cuaca Australia sebagai yang terkuat dalam tujuh dekade terakhir.

Para ilmuwan memprediksi krisis perubahan iklim ini akan sangat memukul ketahanan pangan pada wilayah padat penduduk. Hingga berita ini ditulis, Penjabat Gubernur Papua Barat belum memberikan tanggapan resmi mengenai langkah mitigasi krisis air bersih bagi warga Manokwari.***