Ketika politik sibuk membelah warga menjadi kubu-kubu, adat Nusantara justru mengajarkan bahwa perbedaan adalah alasan untuk saling menjaga.
KOSONGSATU.ID — Setiap musim politik datang dengan janji yang sama: persatuan. Namun, setiap kali pemilu usai, yang tersisa sering kali justru kubu-kubu yang saling curiga, pertengkaran di media sosial, dan identitas yang dipakai sebagai garis pemisah.
Ironisnya, jauh sebelum negara modern mengenal slogan persatuan, masyarakat Nusantara sudah memiliki cara yang lebih sederhana sekaligus lebih efektif untuk menjaga kebersamaan.
Di Maluku, cara itu bernama Pela Gandong.
Persaudaraan yang Tidak Membutuhkan Kesamaan
Pela Gandong adalah ikatan persaudaraan antarnegeri yang sering kali berbeda agama, berbeda asal-usul, bahkan berbeda pulau. Hubungan itu tidak berhenti sebagai simbol adat.
Ketika satu negeri membangun rumah ibadah, mengalami bencana, atau menggelar hajatan besar, negeri saudaranya memiliki kewajiban untuk membantu.
Penelitian menunjukkan tradisi ini menjadi salah satu modal sosial penting dalam proses rekonsiliasi pascakonflik Ambon. Saat luka konflik masih membekas, Pela Gandong mengingatkan bahwa status “saudara” lebih tua daripada identitas kelompok.
Di sini, persatuan tidak dibangun melalui pidato. Persatuan dibangun melalui tindakan yang harus dilakukan.
Ketika Persatuan Menjadi Kewajiban
Masalah terbesar masyarakat modern bukan kurangnya slogan kebangsaan.
Masalahnya adalah minimnya hubungan nyata yang membuat orang merasa saling membutuhkan.
Media sosial memungkinkan seseorang bertengkar dengan ribuan orang yang tidak pernah ditemuinya. Politik identitas tumbuh subur ketika hubungan sosial berubah menjadi hubungan digital yang dangkal.
Pela Gandong menawarkan logika yang berbeda. Hubungan antarkelompok dipelihara karena ada kewajiban timbal balik yang terus dijalankan dari generasi ke generasi.
Kepercayaan lahir bukan karena kesamaan pandangan, melainkan karena pengalaman bekerja dan hidup bersama.





Tinggalkan Balasan