Sejarah sering alpa mencatat pahlawan di balik layar. RM Sajid adalah sosok penting yang menyelamatkan rahasia besar Bung Karno.

KOSONGSATU. ID – ​Indonesia sering menggaungkan nama-nama besar yang berdiri di podium kemerdekaan. Namun, kita kerap melupakan sosok perintis yang berdiri kokoh di belakang layar. Salah satu pahlawan sunyi itu adalah Raden Mas (RM) Sajid Soemodihardjo.

Publik jarang mendengar namanya, padahal ia memegang kunci penting di ring satu kepresidenan sebagai Kepala Rumah Tangga Istana sekaligus Penasihat Pribadi Presiden Soekarno pada periode 1945–1950.

​Kepercayaan Penuh Sang Proklamator

​Bung Karno tidak sembarangan memilih orang kepercayaan. RM Sajid bukanlah sosok asing yang tiba-tiba hadir di istana. Ia adalah adik dari RM Pandji Soemosewoyo, tokoh yang membimbing spiritual dan mengasuh Bung Karno kecil saat bertransformasi dari nama Koesno menjadi Soekarno di Ndalem Pojok, Kediri.

​Mengalir deras darah Pahlawan Nasional Pangeran Sambernyawa (KGPAA Mangkunegara I) di nadinya, RM Sajid mewarisi keteguhan sang leluhur. Posisinya yang strategis di Istana Yogyakarta (Gedung Agung) membuktikan kapasitas intelektual dan kedekatan emosionalnya dalam mendampingi presiden pada masa-masa revolusi fisik yang penuh intrik.

​Detik-Detik Menegangkan di Pagi Buta

​Pagi itu, 19 Desember 1948, langit Yogyakarta mendadak pecah oleh deru pesawat Belanda. Agresi Militer II bergulir tanpa peringatan. Pasukan musuh mulai menerjunkan tentara payung di Pangkalan Udara Maguwo. Suasana istana yang semula tenang seketika berubah genting dan tegang.

​R.O. Permadipura, mantan Kepala Rumah Tangga Presiden di Yogyakarta, berlari menyusuri lorong menuju kamar Bung Karno untuk memastikan keselamatan kepala negara.

Namun, tepat sebelum ia tiba di pintu, Pak Sayid—sapaan akrab RM Sajid—melangkah keluar dari kamar presiden. Wajahnya tegang, napasnya memburu, tetapi pikirannya tetap taktis dan jernih.

​Dengan suara putus-putus akibat situasi darurat, RM Sajid menyerahkan sebuah amanat yang menentukan nasib republik kepada Permadipura:

​”Saudara, musuh sudah turun di Maguwo. Inilah seberkas surat rahasia kepunyaan PYM Presiden harap saudara selamatkan, jangan sampai jatuh di tangan musuh.”

​Misi Senyap Melintasi Malioboro

​Langkah inisiatif RM Sajid di lorong istana itu sukses menyelamatkan rahasia tingkat tinggi negara. Permadipura segera menyembunyikan surat-surat tersebut dan membawanya keluar menembus kepungan musuh. Menyusuri Jalan Malioboro dan Jalan Dagen, dokumen itu akhirnya dititipkan dengan aman di rumah seorang kerabat di Yogyakarta.

​Bisa dibayangkan kehancuran diplomasi Republik Indonesia jika dokumen rahasia milik Paduka Yang Mulia (PYM) Presiden itu jatuh ke tangan Belanda. RM Sajid berpacu dengan waktu, memastikan aset informasi negara aman tepat sebelum para pemimpin bangsa akhirnya ditawan dan diasingkan oleh musuh.

​Pengakuan Negara untuk Sang Perintis

​Meski jasanya sangat krusial, nama RM Sajid Soemodihardjo jarang menghiasi buku sejarah sekolah. Kendati demikian, negara tidak mengabaikan pengorbanannya. Pada tahun 1972, pemerintah resmi mengakui jasanya melalui Surat Keputusan Menteri Sosial RI No. Pol. 30/4-72/PK.

​Kode “PK” dalam surat tersebut mengukuhkannya sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan. Ini adalah gelar kehormatan eksklusif bagi para pelopor pergerakan yang berani menanggung risiko penjara dan pengasingan jauh sebelum proklamasi dikumandangkan.

Validitas historis ini semakin tak terbantahkan ketika Jenderal Besar A.H. Nasution turut mencatat heroisme Pak Sayid secara gamblang dalam karya monumentalnya.

​Menjaga Api Sejarah Bangsa

​Mengenang sosok RM Sajid Soemodihardjo berarti kita sedang merangkai kembali kepingan sejarah yang berserakan. Ia membuktikan bahwa kemerdekaan Indonesia bukan sekadar hasil dari letusan senjata dan pidato berapi-api, melainkan juga buah dari kesetiaan, kejujuran, dan langkah cepat dalam keheningan lorong istana.

​Kini, jejaknya yang terekam di Situs Persada Sukarno Ndalem Pojok berdiri sebagai monumen ingatan. Melalui sosok RM Sajid, generasi muda diajak menyelami fakta bahwa sejarah besar bangsa ini dijaga oleh pahlawan-pahlawan yang ikhlas bekerja dalam senyap, memastikan nyala api republik tidak pernah padam. ***

​Daftar Pustaka

  • ​Nasution, A.H. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia, Jilid 9. Halaman 210, Lampiran V: Peristiwa 19 Desember di Istana Yogyakarta.
  • ​Permadipura, R.O. (1954, 18 Desember). Kesaksian Peristiwa Agresi Militer II. Surat Kabar Harian Abadi.
  • Kementerian Sosial Republik Indonesia. (1972). Surat Keputusan Menteri Sosial RI No. Pol. 30/4-72/PK tentang Penetapan Pahlawan Perintis Kemerdekaan.