Setelah hampir dua dekade menanti anak, seorang wanita di New York akhirnya hamil berkat teknologi AI yang mampu mendeteksi sperma tersembunyi dalam sampel air mani suaminya.


KOSONGSATU.ID–Rosie, seorang wanita berusia 38 tahun di New York, akhirnya hamil setelah 18 tahun menikah. Kabar gembira ini datang bukan karena keajaiban konvensional, melainkan berkat kemajuan teknologi: kecerdasan buatan (AI) yang mampu mendeteksi sperma tersembunyi dalam air mani suaminya yang sebelumnya didiagnosis menderita azoospermia.

Azoospermia adalah kondisi medis yang ditandai dengan tidak ditemukannya sperma dalam ejakulasi seorang pria. Dalam kasus suami Rosie, hasil pemeriksaan awal menunjukkan tidak ada satu pun sperma yang terlihat di bawah mikroskop.

“Yang terlihat hanya serpihan-serpihan sel, bukan sperma,” jelas Dr Zev Williams, Direktur Columbia University Fertility Center, kepada New York Post.

Selama ini, pria dengan kondisi serupa biasanya hanya memiliki dua opsi: menggunakan donor sperma atau menjalani prosedur operasi invasif yang menyakitkan untuk mengambil jaringan dari testis guna mencari kemungkinan adanya sperma.

Namun, berkat sistem baru bernama STAR—singkatan dari Sperm Tracking and Recovery—tim peneliti dari Columbia berhasil mengubah paradigma. STAR bekerja dengan memindai jutaan gambar dari sampel air mani dalam waktu kurang dari satu jam, menggunakan teknologi pencitraan resolusi tinggi yang dikombinasikan dengan algoritma AI.

Dari hasil pemindaian tersebut, ditemukan 44 sperma tersembunyi. Tiga di antaranya dalam kondisi sehat dan langsung diekstraksi secara hati-hati menggunakan bantuan robotik, untuk mencegah kerusakan yang biasa terjadi dalam proses sentrifugasi tradisional.

Prosedurnya berlangsung cepat. Dalam waktu dua jam setelah sperma ditemukan, tim medis langsung membuahi sel telur Rosie secara in vitro. Embrio yang dihasilkan kemudian ditanamkan ke dalam rahimnya. Kini, Rosie sedang hamil lima bulan dan dijadwalkan melahirkan pada Desember 2025.

“Saya bangun setiap pagi dan masih merasa ini seperti mimpi. Tidak percaya ini bisa terjadi,” ujar Rosie.

Meski keberhasilan ini membawa harapan baru bagi jutaan pasangan yang menghadapi tantangan infertilitas, beberapa pakar masih menyarankan agar temuan ini diuji lebih lanjut sebelum digunakan secara luas. “Teknologinya memang sangat menjanjikan, tapi kita harus menunggu data jangka panjang,” ujar Robert Brannigan, presiden terpilih American Society for Reproductive Medicine.

Kasus Rosie menjadi penanda penting dalam upaya menjawab krisis kesuburan pria yang meningkat secara global. Penelitian sebelumnya mencatat penurunan drastis jumlah sperma pria di Barat hingga 52 persen antara tahun 1973 dan 2011. Faktor lingkungan, pola makan buruk, dan gaya hidup tidak sehat diyakini menjadi penyebab utama.

Kini, dengan bantuan teknologi seperti STAR, harapan untuk memiliki anak tidak lagi hanya bergantung pada kemungkinan biologis, tetapi juga pada kecanggihan mesin—dan keberanian manusia untuk terus mencari solusi di tengah keterbatasan.*