Ketika sawah mengering dan beras menjadi sumber kecemasan nasional, umbi-umbian seperti uwi justru bertahan tanpa hiruk-pikuk.
Setiap kemarau panjang, alarm pangan Indonesia hampir selalu berbunyi di titik yang sama: sawah. Ketika irigasi terganggu dan produksi padi menurun, kekhawatiran segera menjalar—dari dapur rumah tangga hingga ruang-ruang rapat pemerintah. Impor dibuka, cadangan dilepas, harga dijaga. Seolah-olah keselamatan pangan bangsa bertumpu pada satu tanaman semata.
Namun, di bawah permukaan tanah, ada pangan lain yang nyaris tak ikut panik. Ia tak menuntut air menggenang, tak rewel pada cuaca yang berubah-ubah, dan tak harus dipanen sekaligus. Umbi itu bernama uwi—pangan lama Nusantara yang pernah menopang hidup masyarakat jauh sebelum beras menjadi simbol kemakmuran.
Pertanyaannya mendasar: mengapa uwi justru lebih tahan paceklik dibanding padi?
Ketergantungan Padi dan Titik Rapuhnya
Padi adalah tanaman yang tumbuh subur dalam kondisi ideal. Ia membutuhkan air berlimpah, musim yang relatif stabil, serta pengelolaan lahan yang intensif. Dalam sistem pertanian modern, padi sawah juga bergantung pada jaringan irigasi, pupuk kimia, pestisida, benih unggul, hingga mesin pertanian.
Ketika semua prasyarat itu terpenuhi, padi memang produktif. Namun justru di sanalah letak kerentanannya.
Kemarau panjang, anomali iklim, gangguan distribusi pupuk, atau kenaikan biaya energi dapat dengan cepat menggerus produksi. Sawah yang kekurangan air bisa gagal panen total. Serangan hama di satu fase pertumbuhan cukup untuk menghapus hasil satu musim. Dan ketika gagal, petani hanya bisa menunggu musim berikutnya—tanpa jaminan keadaan akan membaik.
Sistem pangan berbasis padi adalah sistem berisiko tinggi: hasil besar saat kondisi normal, tetapi jatuh tajam ketika krisis datang.
Uwi dan Logika Bertahan Hidup
Uwi tumbuh dengan logika yang jauh lebih sederhana. Ia tidak memerlukan genangan air. Curah hujan rendah masih dapat ditoleransi. Di lahan kering, berbatu, bahkan di pinggiran hutan, uwi tetap hidup.
Keunggulan utamanya terletak pada cara ia menyimpan hasil panen. Umbi berkembang dan menetap di dalam tanah—terlindung dari panas ekstrem, hujan berlebih, maupun gangguan luar. Selama belum dicabut, umbi itu tetap hidup: tidak membusuk, tidak mengering, dan tidak membutuhkan gudang penyimpanan buatan.
Dalam praktik tradisional, masyarakat tidak memanen uwi sekaligus. Mereka mencabut seperlunya—hari ini satu umbi, minggu depan satu lagi. Tanah berfungsi sebagai lumbung pangan alami.
Di titik ini, uwi menunjukkan keunggulan strukturalnya: ia tidak mengenal jeda antara panen dan kelaparan.
Risiko Gagal yang Tidak Pernah Total
Dalam pertanian padi, gagal panen berarti kehilangan segalanya—pangan dan pendapatan sekaligus. Padi yang terserang hama, terendam banjir di fase kritis, atau kekeringan di awal tanam, hampir pasti tidak menghasilkan apa pun.
Uwi bekerja dengan cara berbeda. Karena umbi berkembang perlahan di bawah tanah dan tidak bergantung pada fase berbunga serentak, risiko kehilangan total nyaris tidak ada. Sebagian umbi mungkin rusak, tetapi sebagian lain tetap dapat diselamatkan.
Bagi masyarakat yang hidup dalam ketidakpastian iklim, sifat ini sangat menentukan. Uwi adalah pangan berisiko rendah—bukan karena hasilnya selalu besar, tetapi karena jarang benar-benar nihil.




Tinggalkan Balasan