Uwi dan Ingatan Kolektif Gunungkidul

Di Gunungkidul, ingatan tentang uwi hidup dalam cangkriman populer era 1970–1980-an: Wigotidhengkul—uwi ketigo mati rendheng thukul. Ungkapan ini menandai siklus hidup uwi yang mati di musim kemarau dan tumbuh saat hujan.

Hingga kini, wilayah ini masih menyimpan keragaman uwi: uwi beras, uwi ungu, uwi luyung, uwi ulo, hingga uwi hitam. Sebuah penanda bahwa sebelum beras menjadi pusat, uwi pernah menjadi penyangga utama perut dan peradaban Jawa.***