Gedung Putih marah besar setelah jet tempur Israel membombardir Iran.
KOSONGSATU.ID–Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan sangat marah, menyusul serangan sepihak militer Israel terhadap puluhan fasilitas bahan bakar sipil Iran. Serangan ini memicu keretakan taktis pertama yang menonjol antara Washington dan kabinet Israel.
Insiden ini terjadi di tengah eskalasi perang kawasan antara koalisi AS-Israel melawan Iran.
Pada Sabtu, 7 Maret 2026, jet tempur Israel melancarkan operasi militer secara mendadak. Mereka membombardir sekitar 30 depot bahan bakar dan fasilitas logistik minyak di seluruh Iran, termasuk di ibu kota Teheran dan Karaj.
Skala kerusakan yang ditimbulkan sangat luar biasa. Pemerintah AS terkejut, karena tingkat destruksi jauh melampaui pemberitahuan awal yang diberikan Israel kepada Washington.
Gedung Putih langsung mengirimkan pesan diplomatik bernada teguran keras ke Tel Aviv. Laporan dari Axios membenarkan kemarahan tersebut. Seorang pejabat senior keamanan AS anonim pada 9 Maret 2026 mengonfirmasi ketidaksukaan pemerintah.
“Kami tidak menganggap ini adalah ide yang bagus. Pesan dari Washington ke Israel adalah ‘WTF‘,” tegas pejabat tersebut.
Kemarahan pemerintahan Trump didasari oleh kekhawatiran ekonomi yang kuat. AS khawatir tindakan provokatif Israel ini memicu kepanikan pasar energi.
Kekhawatiran itu langsung terbukti nyata di pasar komoditas. Harga minyak mentah global melonjak tajam menembus angka lebih dari USD100 per barel pada Senin, 9 Maret 2026.
Mencegah Blunder Strategis Berkelanjutan
Seorang penasihat Donald Trump anonim pada 9 Maret 2026 mengungkapkan keengganan presiden merusak pasar energi global. “Presiden tidak menyukai serangan itu. Dia ingin menyelamatkan minyak tersebut. Dia tidak ingin membakarnya. Dan hal ini mengingatkan orang-orang pada tingginya harga bensin,” ujarnya.
Selain masalah inflasi, tindakan militer Israel dinilai sebagai blunder strategis. Menyerang fasilitas yang menyuplai kebutuhan sipil justru berisiko menyatukan kembali dukungan rakyat Iran terhadap rezim mereka. Tragedi ini secara langsung membahayakan jutaan warga sipil di wilayah konflik bersenjata.
Dampak di lapangan sangat fatal. Laporan dari Teheran menyebutkan fenomena hujan hitam akibat tumpahan minyak bercampur hujan menutupi jalanan ibu kota. Serangan mematikan ini juga menewaskan sedikitnya empat pegawai perusahaan distribusi minyak Iran.
Situasi darurat ini memaksa Washington bergerak cepat meredam sekutunya. Pada Minggu, 8 Maret 2026, utusan khusus AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, segera terbang ke Israel. Mereka ditugaskan melakukan pembicaraan tingkat tinggi guna membatasi dan mengendalikan ruang lingkup operasi militer Israel di masa depan.*





Tinggalkan Balasan