Fenomena iklim global perpanjang durasi kemarau di atas rata-rata historis.
KOSONGSATU.ID–Dinamika atmosfer di wilayah Indonesia tengah mengalami gejolak yang patut diwaspadai. Berdasarkan analisis terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), iklim nusantara sedang berada dalam fase transisi.
Kondisi iklim yang tadinya terpantau normal kini perlahan bergeser memicu fenomena El Nino dalam kategori lemah hingga moderat.
Implikasi dari fenomena global ini sangat fatal bagi wilayah regional. Musim kemarau di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2026 dipastikan akan berjalan jauh lebih kering dan berlangsung lebih lama dari standar klimatologis periode 1991 hingga 2020.
Probabilitas penguatan El Nino ini tidak bisa dipandang sebelah mata. BMKG mencatat terdapat peluang sebesar 50 hingga 60 persen fenomena iklim ini akan semakin menguat menjelang paruh kedua tahun 2026. Rentetan peringatan sudah disebar sejak awal bulan.
Pada 4 Maret 2026, BMKG Pusat menetapkan peringatan dini kekeringan berskala nasional. Menyusul kemudian pada tanggal 9 hingga 11 Maret 2026, Stasiun Klimatologi Kelas II Jawa Timur mengeluarkan rincian spesifik untuk 74 Zona Musim (ZOM) yang berada di bawah pengawasan mereka.
Data sebaran musim kemarau ini melukiskan situasi yang cukup mengkhawatirkan. Pada bulan April, sebanyak 26 ZOM akan lebih dulu mencicipi hawa panas kemarau. Keadaan ini akan meroket secara drastis pada bulan Mei 2026. Sekitar 43 ZOM, yang merepresentasikan 58,1 persen luas wilayah Jawa Timur, akan masuk ke musim kering secara berbarengan.
Puncaknya sendiri diperhitungkan akan tiba pada bulan Agustus 2026, di mana 53 ZOM atau 70,9 persen dari provinsi tersebut akan terpanggang suhu ekstrem dengan curah hujan minim.
Implikasi Curah Hujan Bawah Normal
Anomali iklim ini membawa efek domino yang wajib dimitigasi sejak dini. Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II Jawa Timur, Anung Suprayitno, pada 10-11 Maret 2026, menyoroti profil curah hujan tahun ini.
“Sifat hujan musim kemarau di sebagian besar wilayah Jawa Timur diprediksi berada pada kondisi bawah normal. Informasi ini diharapkan menjadi dasar aksi dini untuk mengurangi risiko kekeringan, krisis air bersih, hingga potensi kebakaran lahan dan hutan,” paparnya memberi peringatan. Tercatat 52,7 persen wilayah Jatim akan mengalami durasi kemarau yang menyiksa.
Selain memicu krisis ketersediaan air minum bagi warga, El Nino menghantam langsung sektor vital agrikultur. Potensi kekeringan memaksa pelaku sektor pertanian memutar otak agar tidak berujung pada kebangkrutan akibat gagal panen.
Menanggapi situasi iklim ini, Perwakilan BPBD Kabupaten Nganjuk, Wicaksono, pada 11 Maret 2026, memberikan imbauan lugas. “Kami mengimbau para petani untuk segera menyesuaikan pola tanam pertanian, pilih tanaman yang tidak rakus air,” cetus Wicaksono. Adaptasi adalah kunci bertahan hidup di tengah hantaman El Nino.***





Tinggalkan Balasan