Oknum tenaga kesehatan hafal sumpah profesinya, dan warganet hafal norma moral keadilan. Namun, pengetahuan moral itu hanya berhenti sebagai retorika di kepala tanpa pernah dihidupkan menjadi empati nyata saat berinteraksi di dunia digital.

Prinsip Here and Now dari Zen mengajarkan kita untuk hadir secara utuh pada momen yang sedang kita hadapi. Ketika seorang pasien mengeluh kelelahan menunggu, respons yang bijak adalah mendengarkan dan mengayomi. Namun, yang terjadi di media sosial adalah pikiran orang-orang yang melompat-lompat akibat terdistraksi oleh algoritma amarah, gengsi kelompok, atau dorongan untuk terlihat paling benar.

Akibatnya, kehadiran yang hangat dan penuh rasa empati menjadi barang langka di ruang publik. Kasus ini menjadi peringatan keras bagi kita semua pada Agustus 2026 ini bahwa empati adalah otot yang kian menyusut jika tidak dilatih.

Latihan filsafat Zen menawarkan jalannya melalui praktik jeda digital sebelum berkomentar, melepaskan dorongan untuk selalu menjadi hakim atas kehidupan orang lain, serta kembali pada harmoni tanpa memaksakan ego yang merusak ekosistem sosial.

Ilmu itu baru menjadi cahaya ketika ia diwujudkan dalam tindakan dan empati nyata. Jika di ruang digital kita masih begitu mudah melempar batu penghakiman, jangan-jangan kita sedang membiarkan batin kita sendiri kekeringan pencerahan.***