Percobaan ketiga dilakukan pada pukul 15.04 waktu setempat. Namun pesawat tidak mencapai ketinggian yang dibutuhkan. Di ujung landasan, lumpur salju (slush) menghambat laju. Pesawat kemudian menabrak pagar pembatas dan sebuah rumah, lalu meledak. Dalam hitungan detik, mimpi yang dibangun bertahun-tahun runtuh menjadi daftar nama, kabar duka, dan luka yang tidak selesai pada hari itu saja.
Delapan Pemain Gugur, Satu Tim Kehilangan Separuh Jiwanya
Kecelakaan itu menewaskan 23 orang. Bagi Manchester United, angka itu segera berubah menjadi wajah-wajah yang dikenal publik: delapan pemain yang menjadi inti generasi Busby Babes.
Mereka adalah Geoff Bent, Roger Byrne, Eddie Colman, Mark Jones, David Pegg, Tommy Taylor, Liam Whelan, dan Duncan Edwards. Edwards—yang kerap disebut fenomena muda—tidak meninggal di lokasi kejadian, tetapi wafat 15 hari kemudian di rumah sakit. Penundaan itu, bagi banyak orang, terasa seperti harapan yang pelan-pelan dipadamkan: seolah dunia memberi kesempatan untuk percaya, lalu mengambilnya kembali.
Tragedi Munich tidak sekadar mengurangi kekuatan tim; ia memutus kesinambungan. Tim muda yang dirancang untuk tumbuh bersama kehilangan separuh skuad intinya sekaligus. Sepak bola, yang biasanya menghitung kehilangan dalam bentuk poin dan trofi, tiba-tiba harus menghitungnya dalam bentuk kursi kosong, keluarga berduka, dan karier yang tak pernah sempat menjadi legenda utuh.
Sir Matt Busby sendiri terluka parah. Ia bahkan sempat menerima sakramen terakhir—doa jelang kematian—dua kali, sebuah detail yang menegaskan betapa tipis batas hidup-mati dalam tragedi itu. Namun Busby selamat. Dan keselamatannya kelak menjadi salah satu poros terbesar dalam narasi kebangkitan United.
Sepuluh Tahun Setelahnya, United Menjawab Duka dengan Trofi
Ada kisah yang lebih keras daripada tragedi: bagaimana seseorang memilih untuk hidup setelahnya. Busby, menurut narasi yang bertahan hingga kini, tidak menyerah. Dengan sisa pemain yang ada, dengan cadangan, dengan energi yang harus dikumpulkan dari reruntuhan, ia membangun ulang tim seolah menambal masa depan dengan tangan sendiri.



Tinggalkan Balasan