Tolak wacana Kemendiktisaintek soal penutupan prodi, UIN Jakarta siapkan inovasi akademik agar tak sekadar jadi mesin industri!
KOSONGSATU. ID – Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta resmi merespons wacana Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Sebelumnya, kementerian santer berencana menertibkan dan menutup program studi (prodi) yang dinilai sudah tidak relevan dengan kebutuhan dunia industri.
Rektor UIN Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar, MA., Ph.D., meminta semua pihak menyikapi kebijakan peningkatan mutu pendidikan ini secara konstruktif, kritis, dan berimbang.
Lebih dari Sekadar Kebutuhan Industri
Sebagai institusi pendidikan tinggi berbasis keislaman, UIN Jakarta menegaskan mandat strategis kampus melampaui urusan pemenuhan pasar kerja semata.
Perguruan tinggi memikul tanggung jawab besar untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, membentuk karakter, dan membangun peradaban bangsa.
Prof. Asep mengingatkan bahwa tolok ukur relevansi sebuah program studi tidak bisa dilihat secara sempit hanya dari kacamata industri dan pencarian cuan.
”Relevansi suatu program studi tidak semata-mata diukur dari keterkaitannya dengan industri, tetapi juga dari perannya dalam menjawab kebutuhan sosial, kultural, dan keagamaan masyarakat,” tegas Prof. Asep dalam rumusan sikap resmi UIN Jakarta tertanggal 30 April 2026.
’Senjata Rahasia’: Transformasi Akademik sebagai Solusi
Berangkat dari pemahaman tersebut, UIN Jakarta menilai penutupan prodi secara simplistik bukanlah solusi yang komprehensif. Menolak pasrah dijadikan sekadar mesin pencetak pekerja, kampus ini menyiapkan ‘senjata rahasia’ melalui langkah strategis yang berkelanjutan: transformasi, revitalisasi, dan inovasi akademik.
Di tengah pesatnya kemajuan teknologi, disiplin ilmu humaniora dan keislaman justru tetap memegang peran krusial. Ilmu-ilmu ini menjaga etika, mengasah pemikiran kritis, dan merawat kohesi sosial. Kehadirannya menjadi fondasi penting untuk menyeimbangkan nilai kemanusiaan dan laju disrupsi teknologi.
Sebagai wujud adaptasi, UIN Jakarta kini gencar mengembangkan model integrasi keilmuan. Inilah inovasi yang diandalkan, dengan menghubungkan ilmu keislaman bersama sains, teknologi, dan kebutuhan masa depan.
Fokus pengembangannya kini mencakup berbagai sektor mutakhir, mulai dari ekonomi syariah, industri halal, teknologi pendidikan, hingga digitalisasi kajian Islam.
Dorong Sinergi Pemerintah dan Industri
Selain berbenah di ranah internal, UIN Jakarta juga mendesak pemerintah agar lebih aktif menciptakan ekosistem yang sehat antara perguruan tinggi dan dunia usaha.
Pemerintah dan kampus perlu merumuskan kebijakan yang mengarahkan industri untuk membangun inovasi berkelanjutan, bukan sekadar mengejar target produksi jangka pendek. Industri juga dituntut memegang peran penting guna meningkatkan kualitas layanan masyarakat dan memperkuat daya saing produk.
Semua langkah ini wajib terintegrasi dengan upaya mencetak sumber daya manusia unggul yang adaptif menghadapi dinamika global.
Komitmen Evaluasi Menyeluruh
Sebagai wujud komitmen internal, UIN Jakarta segera mengevaluasi seluruh program studinya secara komprehensif. Kampus akan memperkuat sistem tracer study, memperbarui kurikulum berbasis kompetensi masa depan, serta meningkatkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan industri, pemerintah, dan masyarakat sipil.
”UIN Jakarta siap bersinergi dengan pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada kebutuhan jangka pendek dunia industri, tetapi juga pada visi jangka panjang pembangunan manusia Indonesia yang unggul, berakhlak, dan berdaya saing global,” tutup pernyataan resmi tersebut.
Pada akhirnya, langkah proaktif UIN Jakarta membuktikan bahwa eksistensi perguruan tinggi tidak boleh tunduk pada dikte pasar semata. Lewat “senjata” transformasi dan kolaborasi lintas sektor, kampus membuktikan diri tetap mampu menjadi benteng peradaban—mencetak generasi yang adaptif terhadap masa depan, tanpa harus kehilangan akar moral dan nilai kemanusiaannya.***






Tinggalkan Balasan