Sirkulasi alaminya membuat bangunan bisa bernapas sehingga suhu ruangan tetap sejuk. Ketangguhan strukturnya turut teruji saat gempa bumi bermagnitudo 7 mengguncang wilayah Lombok pada 2018 silam.
Hunian tradisional Sasak beratap rumbai dengan rangka bambu terpantau tetap kokoh berdiri. Sebaliknya, banyak hunian modern berbahan beton di sekitarnya yang luluh lantak akibat guncangan tersebut.
Tantangan Modernisasi Konstruksi
Meski unggul, integrasi material alami ke arsitektur modern menghadapi sejumlah tantangan berat. Kerentanan terhadap api menjadi risiko utama yang menuntut inovasi pelapis pelindung khusus anti-api.
Selain itu, ketersediaan bahan baku makin menipis tergerus ekspansi material instan. Pemasangannya juga menuntut biaya tenaga kerja terampil dan perawatan rutin demi mencegah pelapukan serat daun.
Meskipun secara sains terbukti unggul dalam memberikan kenyamanan termal, penggunaan atap rumbia kini semakin berkurang. Warisan arsitektur Austronesia ini perlahan mulai ditinggalkan oleh masyarakat.
Faktor ekonomi, kelangkaan material alami, serta keterampilan khusus yang dibutuhkan untuk pemasangannya membuat banyak masyarakat beralih ke atap seng atau beton demi efisiensi waktu.
Saat ini, lebih dari 95 persen bangunan di Indonesia telah beralih menggunakan atap seng meskipun material tersebut memiliki kinerja termal yang jauh lebih buruk dibandingkan daun rumbia.
Pemerintah dan praktisi tata ruang perlu merumuskan regulasi inovatif untuk menyinergikan material alami dengan standar keamanan modern. Transisi ini krusial demi menciptakan hunian sehat bagi masyarakat.
“Kalau perlu kita kembali pakai ijuk, kembali pakai rumbai. Kalau tidak, kita harus cari. Genteng bukan teknologi baru, rakyat kita dari dulu pakai genteng kok,” kata Prabowo.***




Tinggalkan Balasan