Bubur ritual tolak bala masyarakat Jawa ini ternyata sudah tercatat dalam prasasti era Hindu — jauh sebelum Serat Centhini lahir pada abad ke-19.
KOSONGSATU.ID – Tradisi penyajian Jenang Sengkolo sebagai sesaji tolak bala di masyarakat Jawa memiliki jejak sejarah yang lebih panjang dari yang selama ini dipahami.
Menurut sejarawan Heri Priyatmoko, bubur merah putih sudah ada sejak era Hindu, bahkan sebelum masa Serat Centhini. Catatan tentang cara mengolah jenang bahkan sudah ditemukan pada prasasti dari era tersebut.
Sejarawan sosial Universitas Sebelas Maret (UNS), Tundjung Sutirto, menyebut tradisi ini bertahan hingga Kerajaan Mataram Islam dan menilainya sebagai wujud sinkretisme — akulturasi kalender Islam dan Jawa pada masa Sultan Agung, yang memerintah pada 1613–1645.
Simbol Dua Orang Tua
Kata “sengkolo” berasal dari morwakala, yang berarti menghilangkan balak atau kesialan. Jenang ini terdiri dari dua jenis: jenang abang — beras yang diberi gula jawa — dan jenang putih — beras yang dicampur santan.
Dalam buku Jenang Sengkolo, Manifestasi Kesungguhan Doa (Dini Damayanti, 2019), bubur merah melambangkan indung telur dan bubur putih melambangkan sperma — simbol peran kedua orang tua sebagai perantara kehadiran manusia di dunia.
Sejarawan Heri Priyatmoko menegaskan tradisi ini tidak bisa dimaknai sebagai klenik. Sesaji seperti Jenang Sengkolo adalah sarana memohon keselamatan kepada Tuhan — dengan cara yang khas Jawa.
Dorongan Pelestarian Meluas
Upaya pelestarian kuliner ritual seperti Jenang Sengkolo kini mendapat momentum dari kebijakan nasional. Kementerian Kebudayaan menetapkan 514 warisan budaya takbenda pada 2025, menjadikan total WBTb Indonesia sejak 2013 mencapai 2.727 entri.
Namun, status WBTb bukan jaminan abadi. Pemerintah daerah wajib melaporkan kegiatan pelestarian ke kementerian minimal setahun sekali — jika empat tahun berturut-turut absen, status WBTb dapat dicabut.
Bagi masyarakat Jawa, Jenang Sengkolo hadir di hampir setiap tahap kehidupan: kelahiran bayi, ulang tahun, pernikahan, musim panen, hingga tasyakuran selamat dari bahaya. Tradisi yang melampaui raja-raja, melampaui zaman, dan kini sedang diperjuangkan agar tidak hilang dari meja dapur generasi berikutnya.***



Tinggalkan Balasan