Syekh Maher Hamoud menyoroti ironi besar dunia Islam: negara mayoritas Sunni bungkam, sementara Iran berani bela Palestina.


KOSONGSATU. ID – Pernyataan menohok ini bukanlah sekadar kritik biasa, melainkan sebuah alarm peringatan bagi para pemimpin dunia Arab dan Islam. Keprihatinan ulama tersebut seolah membuka ruang diskusi mengenai realitas pahit yang selama ini kerap diabaikan, sekaligus mewakili keresahan jutaan umat yang lelah melihat kepasifan para pemimpin mereka di tengah krisis kemanusiaan.

Dunia Islam kini menghadapi ironi yang sangat menyayat hati. Peringatan lantang datang dari Syekh Maher Hamoud, seorang ulama terkemuka Sunni yang sepanjang hidupnya konsisten menyerukan persatuan umat dan perlawanan terhadap penjajahan. Ia melontarkan kritik tajam yang menelanjangi realitas politik saat ini.

​Syekh Maher menyoroti fakta bahwa mayoritas negara muslim bermazhab Sunni memiliki segalanya. Mereka mempunyai populasi besar, kekayaan alam yang melimpah, hingga kekuatan politik yang luas.

Namun, ketika kekuatan asing menghancurkan Palestina, para penguasa ini hanya mampu menawarkan kecaman. Mereka bersembunyi di balik retorika kosong tanpa pernah menunjukkan keberanian nyata.

​Tamparan Keras dari Teheran

​Kondisi tersebut menghadirkan kontras yang tajam. Di saat banyak pihak hanya fasih berteriak menuntut hak Palestina dari darat ke laut lalu berbalik dan tidak berbuat apa-apa, Republik Islam Iran justru mengambil langkah berbeda. Iran berani berdiri tegak menentang dan melawan langsung represi tersebut.

​Nyatanya, Iran yang merupakan negara bermazhab Syiah justru tampil paling keras dan gigih menantang hegemoni Amerika Serikat serta proyek Zionis. Fakta lapangan ini tentu menjadi tamparan keras bagi para penguasa muslim Sunni. Keunggulan jumlah mayoritas nyaris tidak berarti apa-apa ketika keberanian tidak menyertainya.

​Bertaruh pada Pundak Perlawanan

​Hari ini, muruah perlawanan Islam seakan bertaruh di pundak Iran. Keberanian mereka mengambil risiko membuktikan bahwa perjuangan membutuhkan aksi, bukan sekadar simpati di atas mimbar. Mereka berpegang pada satu keyakinan yang sangat sederhana namun fundamental. Allah tidak mungkin membiarkan orang-orang yang berdiri tegak membela agama-Nya berjuang sendirian.***