“Banyak yang Islam di sini, tapi ya tetap sembahyang untuk leluhur kalau jelang Imlek. Bahkan setiap rumah warga di sini memiliki altar doa untuk leluhur, termasuk warga Tionghoa yang muslim,” jelasnya.
Perkawinan campuran dengan warga pribumi berlangsung turun-temurun. Identitas budaya dan agama berjalan berdampingan tanpa sekat sosial.
Tradisi dijaga. Kehidupan sosial tetap rukun.

Semarak Imlek dan Barongsai
Saat perayaan Imlek, suasana kampung berubah semarak. Dinding gang dipenuhi mural naga berwarna cerah. Lampion, patung naga, dan bunga plum menghiasi sudut-sudut perkampungan.
Seno menyebut, mayoritas warga berada pada tingkat ekonomi menengah ke bawah. Kondisi itu tidak lepas dari sejarah nenek moyang mereka sebagai tukang kayu.
Meski demikian, antusiasme menyambut Tahun Baru Imlek tetap tinggi. Puncaknya ditandai dengan pentas Barongsai yang berkeliling kampung.
“Ada pentas Barongsai yang keliling kampung, ini sudah jadi tradisi kami. Bahkan pentas Barongsai di kampung kami selalu menarik perhatian pengunjung dari luar,” ujar Seno.
Pertunjukan itu rutin mengundang warga dari berbagai daerah untuk datang dan menyaksikan langsung. Tradisi tetap hidup. Kampung tetap bertahan.***




0 Komentar