​Sementara itu, Peneliti Ahli Pertama BRIN Hasrianti menemukan bukti percampuran identitas pada makam Yunus bin Ali Afandi di Bontoala. Ragam hias makam memuat peleburan pengaruh Islam, Eropa, Nusantara, hingga Utsmaniyah.

​Menurutnya, ornamen pada makam tidak cuma berfungsi sebagai dekorasi estetis semata. Ragam hias itu menjelma sebagai penanda status sosial dan media penyampaian pesan spiritual kepada peziarah.

​Sebelumnya, Kepala Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN Irfan Mahmud menilai kajian dengan skala mikro sangat penting. Penelitian sebaiknya merambah wilayah pedalaman, tidak melulu terpaku pada pusat kerajaan.

​Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Marsis Sutopo sepakat bahwa perjumpaan gagasan ini melahirkan tradisi dan peninggalan sejarah yang sangat kaya.

​“Pertemuan antara kebudayaan Islam dengan kebudayaan lokal ini mungkin benar-benar memberi warna dan pengkayaan dari budaya Islam yang ada di Nusantara,” tuturnya.***