Pada tasyakuran berbasis kalender Masehi, warga menambahkan agenda pembangunan Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah melalui program Dhillal Berkat Rohmat Allah (DHIBRA). Program ini menjadi bentuk konkret rasa syukur yang diterjemahkan ke dalam aksi sosial. Rumah-rumah yang dibangun ditujukan bagi masyarakat yang membutuhkan, memperluas makna kemerdekaan hingga ke ranah kesejahteraan.

Dengan demikian, sujud syukur tidak berhenti pada ritual. Ia menjelma menjadi kerja sosial yang menyentuh kehidupan sehari-hari. Spirit doa bergerak menjadi program. Rasa syukur diterjemahkan menjadi keberpihakan.

Di Madiun, seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib dan khidmat. Jamaah mengikuti acara hingga penutup yang diakhiri dengan doa bersama untuk bangsa dan negara. Dalam hening malam Ramadan, sujud itu menjadi simbol pengakuan bahwa kemerdekaan adalah nikmat yang perlu disyukuri secara berulang—bukan hanya dirayakan, tetapi juga dijaga.

Melalui agenda ini, warga Thoriqoh Shiddiqiyyah menegaskan kewajiban melaksanakan tasyakuran kemerdekaan dan berdirinya NKRI sebanyak dua kali setiap tahun. Sebuah penegasan yang memadukan sejarah, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial dalam satu rangkaian ibadah.

Di antara lantunan doa dan sujud yang panjang, tersirat satu pesan sederhana: kemerdekaan bukan hanya warisan masa lalu, melainkan ikhtiar yang terus diperbarui—di masjid, di musala, dan di hati mereka yang memilih untuk bersyukur.***