Di balik kabut tipis yang menyelimuti lereng Gunung Kawi, sebuah gerakan tasawuf tumbuh pelan namun pasti, menggeser citra lama kawasan yang selama ini dilekatkan pada mistisisme dan ritual kekayaan instan.
KOSONGSATU.ID—Di wilayah Wonosari, Kabupaten Malang, bangunan dengan warna biru, ungu, dan kuning emas berdiri kontras di antara lanskap hijau pegunungan. Taman Kendaraan Roudlotul Mathiyyah Shiddiqiyyah bukan sekadar gedung pertemuan. Ia menjadi simbol kehadiran permanen Thoriqoh Shiddiqiyyah—tarekat yang berpusat di Ploso, Jombang—di jantung kawasan ziarah Gunung Kawi.
Selama bertahun-tahun, Gunung Kawi identik dengan pesarean Eyang Jugo dan R.M. Iman Soedjono, dua tokoh yang makamnya ramai diziarahi. Narasi yang berkembang di luar kawasan sering kali menyederhanakan praktik spiritual di sana sebagai “pesugihan”. Namun, kehadiran Shiddiqiyyah menawarkan pendekatan berbeda: tasawuf terstruktur, organisasi rapi, dan ekspansi berbasis infrastruktur.
Bangunan permanen yang mereka dirikan bukan hanya ruang dzikir kolektif, tetapi juga pusat koordinasi organisasi otonom. Ini adalah strategi “menanam rumah” di titik-titik strategis Jawa Timur—membuat ajaran tak lagi bergerak sporadis, melainkan terlembagakan.
Filantropi sebagai Jalan Masuk
Di lereng yang sama, pendekatan sosial menjadi pintu masuk yang tak kalah penting. Program Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah (RSLHS) menyentuh kebutuhan paling dasar warga: tempat tinggal.
Dalam momentum Tasyakuran Sumpah Pemuda ke-97 yang digelar Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah Front Ketuhanan Yang Maha Esa (OPSHID FKYME) Malang Raya, enam unit Rumah Syukur Layak Huni Fatchan Mubiina dibangun di sekitar Gunung Kawi.
Skema ini bukan insidental. Ia terhubung dengan agenda Santunan Nasional yang rutin digelar setiap 17 Agustus maupun hari besar organisasi. Dengan memperbaiki rumah warga kurang mampu, Shiddiqiyyah membangun legitimasi sosial—membingkai dirinya sebagai gerakan yang tak hanya berbicara tentang keselamatan akhirat, tetapi juga kesejahteraan dunia.
Dalam konteks sosiologis, filantropi semacam ini menciptakan ikatan emosional. Bantuan konkret menumbuhkan rasa memiliki. Dari situ, penerimaan sosial terbentuk perlahan, bahkan di kawasan dengan sensitivitas budaya tinggi seperti Gunung Kawi.
Kontra-Narasi atas Stigma
Stigma “pesugihan” selama ini menjadi bayang-bayang Gunung Kawi. Namun warga setempat memiliki perspektif berbeda. Kadir, Ketua RT di kawasan Pesarean Gunung Kawi, menegaskan bahwa wilayah tersebut adalah destinasi ziarah dan wisata religi bernilai sejarah, bukan pusat ritual kekayaan instan seperti yang kerap diasumsikan orang luar—sebagaimana dikutip detikJatim, 16 Oktober 2023.
Di sinilah Shiddiqiyyah menempatkan narasinya. Doktrin Hubbul Wathon Minal Iman—cinta tanah air adalah sebagian dari iman—menjadi fondasi dakwah mereka. Spiritualitas dipadukan dengan nasionalisme. Dzikir kolektif berjalan beriringan dengan peringatan hari kemerdekaan. Simbol-simbol kebangsaan tampil berdampingan dengan ritual tasawuf.
Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, Kyai Moch. Mukhtar Mu’thi, dalam berbagai pidatonya menekankan bahwa pembangunan fisik di berbagai daerah, termasuk Malang, merupakan manifestasi rasa syukur sekaligus penguatan basis nasionalisme. Bagi mereka, membangun gedung dan rumah bukan sekadar ekspansi organisasi, melainkan ekspresi iman yang konkret.
Perwakilan Pengurus ORSHID Malang menyebut pemilihan lereng Kawi sebagai langkah strategis untuk menjangkau masyarakat pegunungan yang membutuhkan bimbingan spiritual moderat dan berwawasan kebangsaan. Di wilayah yang selama ini hidup dalam akulturasi budaya Jawa, Tionghoa, dan Islam, pendekatan terstruktur semacam ini menemukan ruangnya.
Pergeseran Identitas Kawasan
Secara perlahan, Gunung Kawi mengalami redefinisi identitas. Dari sekadar destinasi wisata mistis, ia bergerak menuju episentrum tasawuf kontemporer yang terorganisasi. Transformasi ini tidak terjadi lewat polemik terbuka, melainkan melalui pembangunan fisik dan program sosial yang konsisten.
Pertanyaannya bukan lagi apakah Shiddiqiyyah diterima, melainkan sejauh mana mereka akan membentuk wajah baru kawasan tersebut. Infrastruktur yang berdiri kokoh dan rumah-rumah yang diperbaiki menjadi penanda bahwa gerakan ini berakar.
Di tengah dinamika spiritual Jawa Timur, Gunung Kawi kini memantulkan dua wajah: tradisi ziarah lama dan tasawuf modern yang terlembagakan. Kabut di lerengnya mungkin tetap sama, tetapi makna yang tumbuh di bawahnya perlahan berubah—dari mitos tentang kekayaan instan menuju narasi tentang syukur, kebangsaan, dan pemberdayaan sosial.***


1 Komentar