Hujan asam pekat selimuti Teheran usai ledakan besar hancurkan depot minyak.


KOSONGSATU.ID–​Bencana ekologis yang mengerikan kini tengah menghantam ibu kota Iran. Warga Teheran terbangun dengan pemandangan mencekam pada Minggu pagi, 8 Maret 2026.

Hujan yang turun tidak berupa air jernih pembawa kesejukan, melainkan cairan hitam pekat berminyak yang berbau hangus. Fenomena ini muncul pasca-serangan udara pasukan Israel, yang meluluhlantakkan sejumlah fasilitas logistik dan penyimpanan minyak strategis di Teheran dan Provinsi Alborz pada malam sebelumnya.

​Serangan mematikan yang terjadi pada 7 Maret 2026 itu memicu kebakaran raksasa yang tidak dapat dikendalikan. Jutaan liter minyak mentah murni dan produk olahan terbakar hebat. Akibatnya, berton-ton karbon, jelaga, sulfur, hingga nitrogen oksida terlepas dan membumbung tinggi ke lapisan atmosfer bawah Teheran.

Ketika awan hujan melintasi wilayah tersebut keesokan harinya, polutan pekat itu terikat oleh air dan jatuh kembali ke bumi sebagai hujan asam beracun. Noda hitam berminyak kini menutupi jalanan, kendaraan, hingga balkon rumah warga kota.

​Kondisi mengerikan ini dikonfirmasi langsung melalui laporan pandangan mata dari jurnalis internasional. Koresponden Senior CNN, Frederik Pleitgen, membagikan kesaksiannya secara langsung dari lokasi pada 8 Maret 2026.

“Beginilah yang turun pagi ini, hujan bercampur minyak seperti yang kita alami sekarang di ibu kota Iran, setelah serangan terjadi. Anda dapat melihat bahwa hujan, air hujan, berwarna hitam—juga tampak jenuh dengan minyak,” ungkap Frederik dalam laporannya.

​Ancaman Nyata bagi 10 Juta Jiwa

​Dampak lingkungan ini seketika berubah menjadi krisis kesehatan masyarakat yang masif.

Sekitar 10 juta penduduk metropolis Teheran kini berada tepat dalam radius ancaman hujan asam beracun tersebut. Hujan ini tidak hanya merusak fasilitas kota, tetapi juga berpotensi membakar kulit saat bersentuhan langsung.

Lebih jauh, ancaman polusi udara ini memicu risiko fatal bagi pernapasan jutaan warga.

​Kepala Bulan Sabit Merah Iran, Pir Hossein Koulivand, segera mengeluarkan peringatan darurat tingkat tinggi pada 8 Maret 2026.

“Dalam peristiwa presipitasi, hujan yang dihasilkan sangat berbahaya dan sangat asam. Ledakan depot minyak melepaskan sejumlah besar senyawa hidrokarbon beracun, sulfur, dan nitrogen oksida ke udara,” tegas Koulivand memperingatkan warga.

​Pihak berwenang mencatat setidaknya enam orang tewas, termasuk empat pengemudi truk tangki, serta 20 lainnya terluka dalam ledakan mematikan tersebut. Kini, warga sipil yang selamat dari ledakan harus berhadapan dengan bahaya keracunan massal. Pasokan air tanah permukaan terancam rusak parah akibat paparan hidrokarbon berskala masif. Bencana ini diperkirakan akan memicu lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara drastis dalam beberapa hari ke depan di berbagai rumah sakit setempat.***​