Surabaya dan Rumah sebagai Ruang Pendidikan Kultural

Ketika pindah ke Surabaya pada 1907 dan bekerja di firma Kooy & Co., Tjokroaminoto membawa serta kegemarannya pada kesenian Jawa. Wayang orang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar hiburan.

Rumahnya menjelma ruang belajar alternatif. Anak-anak dan para pelajar yang mondok di sana diajak berlatih tari dan lakon. Harsono Tjokroaminoto mengenang latihan-latihan itu berlangsung rutin di Taman Seni Panti Harsoyo—sebuah ruang yang pada masanya menjadi simpul pertemuan seni dan pendidikan.

Hanoman: Simbol Perlawanan terhadap Penjajah

Di panggung wayang orang, Tjokroaminoto kerap memilih peran Hanoman. Sosok kera putih sakti dalam kisah Ramayana itu memiliki makna khusus baginya.

“Kesukaan almarhum dulu ialah menjadi Hanoman,” tulis Amelz. Dalam peran itu, Tjokroaminoto menemukan medium untuk mengekspresikan pergulatan batinnya menghadapi penindasan bangsanya.

Dalam tafsirnya, Dasamuka—musuh utama Hanoman—bukan sekadar tokoh mitologis. Ia dianalogikan sebagai penjajah, bahkan sebagai kekuatan kapitalistik yang menindas dan menghisap rakyat. Pertarungan di atas panggung menjadi cermin perjuangan di dunia nyata.

Perlawanan yang Mengubah Cara Pandang

Melalui seni, Tjokroaminoto menunjukkan bahwa perlawanan tidak selalu harus lantang. Ada perlawanan yang bekerja melalui kesadaran—mengubah cara manusia memandang dirinya sendiri dan orang lain.

Kritik terhadap feodalisme, penghayatan seni, dan simbolisme wayang menyatu dalam satu laku hidup. Bagi Sarekat Islam dan Tjokroaminoto, kemerdekaan bukan hanya urusan negara, tetapi urusan martabat: bagaimana manusia Jawa belajar berdiri tegak tanpa tunduk pada ketidakadilan.***