Jauh sebelum perlawanan politik menemukan bentuknya yang mapan, Sarekat Islam dan H.O.S. Tjokroaminoto telah lebih dulu menggugat feodalisme Jawa melalui bahasa tubuh, seni pertunjukan, dan simbol-simbol kebudayaan.
KOSONGSATU.ID—Pada awal abad ke-20, perjuangan melawan penjajahan di Jawa tidak hanya berhadapan dengan kekuasaan Belanda, tetapi juga dengan tatanan sosial feodal yang telah lama mengakar. Dalam struktur itu, manusia diposisikan tidak setara sejak lahir—ditentukan oleh gelar, silsilah, dan ritual penghormatan yang merendahkan.
Sarekat Islam memandang adat feodal semacam ini sebagai penghalang bagi kebangkitan rakyat. Praktik memberi hormat dengan berjongkok, menunduk, hingga mencium kaki para pembesar Jawa dikritik sebagai simbol ketundukan yang melanggengkan ketidakadilan. Bagi Sarekat Islam, martabat manusia tidak boleh diukur dari pangkat dan darah biru, melainkan dari kemanusiaannya.
Perlawanan ini tidak selalu disuarakan dengan pidato keras. Ia hadir dalam sikap, dalam cara bergaul, dan dalam upaya membongkar jarak sosial yang selama ini dianggap wajar.
Budaya sebagai Arena Emansipasi Sosial
Salah satu ciri khas Sarekat Islam adalah kemampuannya membaca budaya sebagai arena perjuangan. Di tengah masyarakat Jawa yang sangat simbolik, perubahan tidak cukup dilakukan lewat kebijakan atau slogan politik. Ia harus menyentuh lapisan mental dan kebiasaan.
Karena itu, Sarekat Islam mendorong anggotanya untuk meninggalkan sikap-sikap feodal dalam kehidupan sehari-hari. Bukan semata soal bahasa atau tata krama, melainkan soal relasi sosial: bagaimana manusia saling memandang, saling menyapa, dan saling menghormati tanpa rasa takut atau rendah diri.
Gerakan kebudayaan ini berjalan seiring dengan perjuangan ekonomi dan politik Sarekat Islam, menjadikannya bukan sekadar organisasi massa, tetapi ruang transformasi kesadaran.
OSVIA Magelang dan Pembentukan Jiwa Seni Tjokroaminoto
Di pusat gerakan itu berdiri Oemar Said Tjokroaminoto. Ia bukan hanya pemimpin politik, tetapi juga produk dari pendidikan Jawa yang sarat disiplin budaya. Bakat seninya ditempa ketika ia bersekolah di Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) Magelang.
Selain pendidikan administrasi pemerintahan penjajah, para pelajar Jawa di OSVIA mendapat pelajaran kesenian: sastra, karawitan, dan tari-tarian Jawa. Keterampilan seni bukan sekadar pelengkap, melainkan penanda kehormatan sosial.
“Adalah suatu aib bagi seorang priyayi lulusan OSVIA bila tidak mahir menari Jawa, yang disebut beksa,” tulis Subagiyo Ilham Notodijoyo. Dalam dunia itu, Tjokroaminoto dikenal sebagai sosok yang menonjol—mahir, disiplin, dan menghayati seni sebagai bagian dari hidupnya.
Dari Pamongpraja ke Dunia Pertunjukan
Lulus dari OSVIA pada 1902, Tjokroaminoto sempat menjalani jalur karier yang diharapkan pemerintah penjajah: menjadi pegawai pamongpraja sebagai juru tulis patih di Ngawi. Namun pengalaman birokrasi justru mempertegas jaraknya dengan sistem yang mengekang.
Seperti Tirto Adhi Soerjo, ia merasa pekerjaan itu tidak memberinya ruang untuk berpihak pada rakyat. Pada 1905, ia meninggalkan dinas pamongpraja dan memilih jalan yang tidak lazim bagi kaum terdidik bumiputra: terjun ke dunia pertunjukan wayang orang.
Keputusan ini bukan pelarian, melainkan peralihan medan perjuangan—dari kantor pemerintahan penjajah ke panggung budaya.
Surabaya dan Rumah sebagai Ruang Pendidikan Kultural
Ketika pindah ke Surabaya pada 1907 dan bekerja di firma Kooy & Co., Tjokroaminoto membawa serta kegemarannya pada kesenian Jawa. Wayang orang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar hiburan.
Rumahnya menjelma ruang belajar alternatif. Anak-anak dan para pelajar yang mondok di sana diajak berlatih tari dan lakon. Harsono Tjokroaminoto mengenang latihan-latihan itu berlangsung rutin di Taman Seni Panti Harsoyo—sebuah ruang yang pada masanya menjadi simpul pertemuan seni dan pendidikan.
Hanoman: Simbol Perlawanan terhadap Penjajah
Di panggung wayang orang, Tjokroaminoto kerap memilih peran Hanoman. Sosok kera putih sakti dalam kisah Ramayana itu memiliki makna khusus baginya.
“Kesukaan almarhum dulu ialah menjadi Hanoman,” tulis Amelz. Dalam peran itu, Tjokroaminoto menemukan medium untuk mengekspresikan pergulatan batinnya menghadapi penindasan bangsanya.
Dalam tafsirnya, Dasamuka—musuh utama Hanoman—bukan sekadar tokoh mitologis. Ia dianalogikan sebagai penjajah, bahkan sebagai kekuatan kapitalistik yang menindas dan menghisap rakyat. Pertarungan di atas panggung menjadi cermin perjuangan di dunia nyata.
Perlawanan yang Mengubah Cara Pandang
Melalui seni, Tjokroaminoto menunjukkan bahwa perlawanan tidak selalu harus lantang. Ada perlawanan yang bekerja melalui kesadaran—mengubah cara manusia memandang dirinya sendiri dan orang lain.
Kritik terhadap feodalisme, penghayatan seni, dan simbolisme wayang menyatu dalam satu laku hidup. Bagi Sarekat Islam dan Tjokroaminoto, kemerdekaan bukan hanya urusan negara, tetapi urusan martabat: bagaimana manusia Jawa belajar berdiri tegak tanpa tunduk pada ketidakadilan.***






Tinggalkan Balasan