Di tengah dunia yang makin individualistis, sedekah hadir sebagai ‘perlawanan’ terhadap ketakpedulian. Ia menjaga empati tetap hidup, menghubungkan manusia, dan mengingatkan bahwa hidup bukan sekadar kompetisi. Santunan Nasional Shiddiqiyyah adalah contoh paling konkret.


KOSONGSATU.ID—Langkah orang-orang di masa kini serba cepat. Mata mereka menunduk menatap layar, kuping tertutup headset, seolah semua larut dalam gelembung masing-masing. Di jalan, ada tangan terbuka meminta bantuan.

Di media sosial, muncul kisah orang yang butuh pertolongan. Namun, sering kali orang-orang hanya menggulir layar, atau pura-pura tak melihat. Bukan karena jahat, tapi karena sudah terbiasa. Terbiasa cuek. Terbiasa merasa bahwa penderitaan orang lain “bukan urusan kita”.

Di titik inilah sedekah berubah jadi lebih besar dari sekadar memberi uang atau makanan. Ia adalah cara kita menyobek gelembung ego. Sebuah pesan kecil: “Aku masih peduli.”

Sedekah adalah sinyal bahwa empati belum mati. Di tengah algoritma media sosial yang menutup mata pada kenyataan, sedekah membuka jendela untuk melihat kehidupan orang lain. Ia membuat seseorang berhenti sejenak dari rutinitas, menengok, lalu memberi.

Contoh Konkret

Contoh nyata bisa dilihat dari Tarekat Shiddiqiyyah, yang tiap tahun rutin menggelar Santunan Nasional (SANNAS) untuk anak yatim, fakir miskin, dan dhuafa. Acara yang digelar saban tahun itu diadakan sekaligus untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad Saw. dan berdirinya Dhilal Berkat Rochmat Alloh Shiddiqiyyah (DHIBRA)—yang tahun ini memasuki tahun ke-25.

Ratusan jemaah berkumpul di Hotel Yusro, Jombang, pada Rabu (10/9). Menurut pengurus DHIBRA, Mukhtar Amin, hingga pukul 14.30 WIB tercatat sudah 12.000 paket santunan dengan nilai Rp2,5 miliar disalurkan serentak di 21 provinsi Indonesia dan Malaysia.

Ketua Umum DHIBRA Shiddiqiyyah, Nyai Shofwatul Ummah (tengah) bersama seluruh pimpinan organisasi di Shiddiqiyyah menyerahkan santunan nasional di Hotel Yusro, Jombang, Rabu (10/9). – OPSHIDMEDIA

Sejak 2006, tradisi ini tidak pernah absen. Total lebih dari Rp51,2 miliar telah disalurkan dalam 21 tahun terakhir—semuanya murni dari jamaah tanpa bantuan organisasi, partai politik, atau pemerintah.

“Bagi orang kaya raya memberi santunan itu biasa, tapi bagi yang ekonominya pas-pasan, ini pertolongan Alloh murni,” kata Umum Ketua DHIBRA, Nyai Shofwatul Ummah.

Sedekah mungkin kecil, tak viral, tak butuh kamera, dan tanpa panggung. Justru di situlah letak kekuatannya. Ia adalah ‘perlawanan’ terhadap dunia yang bising tapi makin asing.

Sedekah menyentuh hati dua kali: hati yang memberi dan hati yang menerima. Maka, ketika dunia makin cuek, pilihlah untuk peduli. Karena sedekah bukan sekadar kebaikan—ia adalah perlawanan.***