Ilmu yang lahir dari ladang dan laut
Sistem ini tidak dikembangkan di laboratorium. Ia lahir dari generasi yang hidupnya bergantung pada ketepatan musim — petani yang harus tahu kapan menanam, nelayan yang harus tahu kapan berlayar.
Sayangnya, peneliti UIN Walisongo mencatat bahwa Kalender Rowot hampir tidak dikenal generasi muda Sasak saat ini. Pengetahuan yang butuh ribuan tahun untuk dibangun, bisa hilang dalam satu generasi yang memilih melihat prakiraan cuaca di ponsel.
Ironinya: prakiraan cuaca di ponsel itu, pada akhirnya, mengukur hal yang sama dengan yang sudah dibaca leluhur Sasak dari bintang.***
Daftar Rujukan
- Awaludin, Muhammad. (2017). Sistem Musim Kalender Rowot Sasak Perspektif Astronomi: Studi Kasus di Desa Kidang, Lombok Tengah. Tesis Magister. UIN Walisongo Semarang. https://eprints.walisongo.ac.id
- Awaludin, Muhammad. (2017). Penanggalan Rowot Sasak dalam Perspektif Astronomi: Penentuan Awal Tahun Kalender Rowot Sasak Berdasarkan Kemunculan Bintang Pleiades. UIN Walisongo Semarang. https://www.academia.edu/115596502
- Detik Bali. (2024, Desember 27). Mengenal Kalender Rowot Sasak, Warisan Budaya Masyarakat Lombok. https://www.detik.com/bali/budaya/d-7705858
- Stellarium Web — aplikasi astronomi berbasis browser untuk verifikasi posisi bintang. https://stellarium.org
Halaman



Tinggalkan Balasan