BEM UGM dan Badan Gizi Nasional saling silang pendapat terkait transparansi program MBG.


KOSONGSATU.ID — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tengah menjadi pusat perhatian publik menyusul adanya perbedaan pandangan antara pihak mahasiswa dan pemerintah.

Polemik ini bermula dari kritik tajam yang dilayangkan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, terkait transparansi dan tata kelola program tersebut.

Melalui unggahan media sosial pada 20 Februari 2026, Tiyo menyebut program tersebut sebagai “maling berkedok gizi”. Ia menyoroti kekhawatiran terkait akuntabilitas anggaran APBN yang diperkirakan mencapai 335 triliun rupiah serta mengeklaim adanya ribuan kasus keracunan makanan di daerah, meski belum merinci sumber datanya secara terbuka.

“Janji bergizi dan gratis harus dibuktikan dengan tata kelola yang transparan,” tulis Tiyo dalam pernyataan digitalnya.

Respons dan Bantahan Badan Gizi Nasional

Menanggapi kritik tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan klarifikasi resmi guna meluruskan persepsi publik. Wakil Kepala BGN, Irjen Pol Sony Sonjaya, membantah adanya praktik pemotongan porsi makanan oleh mitra penyedia. Menurutnya, mekanisme anggaran bagi mitra telah diatur secara ketat agar tidak ada celah penyelewengan.

“Tidak ada ruang untuk sunat porsi. Angka 1,8 miliar rupiah itu bukan laba bersih, melainkan pendapatan kotor maksimal per tahun,” ujar Sony dalam keterangan tertulis pada 22 Februari 2026.

Diskusi ini semakin memanas di media sosial setelah Sony terlihat meninggalkan emoji tertentu pada kolom komentar video Tiyo, yang kemudian memicu spekulasi dan perdebatan di kalangan warganet mengenai etika komunikasi pejabat publik.

Desakan Transparansi dan Kondisi Terkini

Pada 23 Februari 2026, Tiyo Ardianto kembali menyuarakan pendapatnya melalui diskusi di kanal siniar Abraham Samad. Ia menegaskan bahwa kritik mahasiswa bertujuan untuk memastikan anggaran negara yang besar benar-benar tersalurkan dengan tepat. Ia pun mendesak pemerintah untuk membuka data evaluasi program secara periodik kepada masyarakat.

Di sisi lain, situasi pascaviralnya polemik ini menjadi sorotan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) UGM. Dilaporkan bahwa Tiyo menghadapi dugaan tindakan doxing dan intimidasi di platform digital.