Pentagon akui AS dan Israel salah perhitungan. Iran tetap kokoh meski ribuan titik diserang dan para elitnya gugur.


KOSONGSATU. ID – ​Beberapa analis militer di dalam tubuh Pentagon akhirnya mengkonfirmasi realitas pahit di lapangan. Serangan besar-besaran yang Amerika Serikat dan Israel lancarkan ke Iran kini berbalik menjadi skenario terburuk bagi Washington.

​Bocoran diskusi dari Kedutaan Besar AS di Israel mengungkap satu fakta penting: sejak awal, koalisi AS dan Israel meremehkan daya tahan militer dan mental Iran. Mereka tidak pernah memperhitungkan bahwa Teheran mampu menyerap serangan sedemikian masif dan tetap membalas dengan intensitas tinggi.

​Prediksi Meleset dan Gagalnya “Revolusi Warna”

​Israel dan AS kini telah membombardir lebih dari 7.000 titik strategis di seluruh wilayah Iran. Serangan ini menargetkan dan menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, para elit politik dan militer, hingga Kepala Dewan Keamanan Nasional dan Komandan Basij.

​Awalnya, intelijen AS memprediksi rezim Iran akan tumbang hanya dalam empat jam pertama setelah serangan terjadi. Mengutip kalkulasi Pentagon yang dilaporkan The New York Times, Washington sangat yakin bahwa kematian Ali Khamenei akan memicu rakyat Iran turun ke jalan untuk menggulingkan pemerintah.

​Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahkan berulang kali merilis pernyataan yang menghasut rakyat Iran agar memberontak. Israel juga sengaja membunuh pimpinan Basij—pasukan yang mengurus keamanan dalam negeri—dengan harapan menciptakan ruang bagi pemberontakan sipil.

​Namun, realitas di lapangan membungkam ekspektasi Donald Trump dan Netanyahu. Alih-alih melakukan “revolusi warna” atau demonstrasi antirezim, rakyat Iran justru keluar rumah untuk menyatakan dukungan penuh kepada pemerintah. Mereka mendesak militer mengambil tindakan balasan yang keras.

​Soliditas IRGC dan Kegagalan Strategi Pemenggalan

​Washington dan Tel Aviv sangat berharap pembunuhan para pemimpin kunci bisa melemahkan komando Iran. Mereka berusaha mencari sosok elit di dalam Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang bersedia berkhianat dan bekerja sama menjatuhkan pemerintah—sebuah strategi yang sering AS gunakan di negara lain, seperti kasus elit di lingkaran Nicolas Maduro di Venezuela.

​Ternyata, AS tidak menemukan satu pun celah pengkhianatan di dalam tubuh IRGC. Fakta ini membuktikan bahwa sistem pemerintahan Iran telah mereka rancang secara khusus untuk menghadapi perang eksistensial dan mempertahankan resiliensi tingkat tinggi di tengah konflik besar.

​Ketahanan di Tengah Perang Eksistensial

​Melihat pukulan demi pukulan yang Iran terima sekaligus balasan mematikan yang mereka luncurkan, durabilitas negara ini berada di luar nalar kalkulasi militer barat. Hampir tidak ada negara Islam atau negara di Timur Tengah saat ini—bahkan negara sebesar Indonesia—yang diprediksi mampu bertahan lebih dari sepekan jika menghadapi gempuran brutal gabungan AS dan Israel.

​Serangan ini jelas merupakan perang eksistensial. Tujuannya bukan sekadar melemahkan militer, melainkan menghapus Republik Islam Iran selamanya dan menggantinya dengan rezim boneka pro-Barat seperti era Shah Pahlavi.

​Memasuki pekan ketiga menuju bulan pertama pertempuran, pemerintah Iran belum jatuh. Keadaan dalam negeri tetap stabil. Bahkan, ketika Pemimpin Tertinggi baru, Mojtaba Khamenei, dikabarkan sedang berada di luar negeri untuk urusan medis, mesin perang Iran tetap berjalan sempurna tanpa hambatan komando.

​Serangan Balasan dan Kendali Strategis

​Pakar Geopolitik Barbara Slavin dengan tepat menyimpulkan bahwa strategi pembunuhan tokoh tidak akan memengaruhi kemampuan tempur Iran. Buktinya, pusat komando militer Iran tetap utuh (fully intact). Sistem militer mereka segera mengangkat komandan baru untuk mengisi posisi yang kosong akibat gugur di medan laga.

​Saat ini, IRGC masih berdiri sangat kokoh. Mereka terus mengeksekusi taktik perang yang adaptif dan menembakkan ratusan rudal balistik presisi tinggi yang mengoyak wilayah pertahanan Israel. Di laut, militer Iran mengkonfirmasi dominasinya dengan menguasai Selat Hormuz secara penuh.

​Ribuan ton bahan peledak terus menghujani langit Israel melalui proyektil balistik Iran tanpa henti. Infrastruktur Iran mungkin mengalami kerusakan parah, tetapi AS dan Israel juga hancur lebur secara strategis dan operasional dalam perang ini.

​Pesan yang pemerintah dan seluruh rakyat Iran kirimkan kepada Amerika Serikat dan Israel sangat jernih dan tegas: mereka menolak tunduk. Iran telah mengambil keputusan final untuk melawan hegemoni AS dan Israel hingga titik darah penghabisan, apa pun hasil akhirnya.***