Rusia mengecam keras serangan rudal Israel yang sengaja menargetkan jurnalis di Lebanon.
KOSONGSATU.ID — Pemerintah Rusia mengecam keras aksi serangan Israel di Lebanon selatan pada Kamis (19/3/2026). Serangan tersebut melukai dua jurnalis dari media Russia Today. Moskow menilai tindakan ini dilakukan secara sadar dan sengaja.
Rusia menegaskan serangan terhadap pekerja media melanggar hukum humaniter internasional. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menyampaikan kecaman ini secara terbuka. Ia mengaitkannya dengan insiden berdarah di Gaza.
“Mempertimbangkan pembunuhan 200 jurnalis di Gaza, peristiwa hari ini tidak dapat disebut sebagai kebetulan,” ujar Maria Zakharova di aplikasi Telegram pada Minggu (29/3/2026).
Ia menyebut rudal Israel sama sekali tidak menghantam fasilitas militer strategis. Rudal tersebut justru jatuh tepat di lokasi para jurnalis melakukan pelaporan langsung. Hal ini memicu kemarahan otoritas keamanan Rusia.
Ledakan di Jembatan Qasmiya
Insiden bermula saat koresponden Steve Sweeney dan juru kamera Ali Rida bertugas. Mereka sedang melaporkan serangan Israel di dekat Jembatan Qasmiya. Sweeney saat itu mengenakan rompi antipeluru dengan tulisan pers yang sangat jelas.
Sebuah ledakan dahsyat tiba-tiba terjadi tepat di belakang mereka. Keduanya terkena serpihan ledakan dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Mereka dilaporkan dalam kondisi sadar dan sedang menjalani perawatan intensif.
Sweeney meyakini militer Israel sengaja mengincarnya. “Hari ini, Israel mencoba membunuh saya dalam serangan udara selektif di Lebanon selatan saat saya melaporkan serangan terhadap jembatan,” tulis Sweeney di media sosial X.
Rentetan kekerasan terhadap jurnalis terus berlanjut. Jaringan Al-Mayadeen melaporkan jurnalis Fatima Fatouni dan fotografer Mohammad Fatouni tewas pada Sabtu (28/3/2026). Jurnalis Al-Manar Ali Shaee juga tewas di Lebanon selatan.
Dalih Militer Israel
Merespons situasi ini, Kementerian Luar Negeri Rusia memanggil Duta Besar Israel untuk Moskow Oded Yosef. Rusia menuntut investigasi menyeluruh atas insiden mematikan tersebut. Pekerja media berhak mendapat perlindungan layaknya sipil.
Pihak militer Israel atau IDF memberikan pembelaan yang berbeda. Mereka mengklaim serangan tersebut murni menargetkan jembatan strategis. Fasilitas itu dituduh menjadi jalur pergerakan kelompok Hizbullah dan tempat transfer senjata.
IDF menyatakan telah mengeluarkan peringatan evakuasi sebelum peluncuran rudal dilakukan. Pasukan tentara Israel juga bersikeras tidak pernah dan tidak akan pernah sengaja menargetkan jurnalis di medan perang.
Data Komite Perlindungan Jurnalis mencatat 129 pekerja media tewas di seluruh dunia sepanjang tahun lalu. Sebagian besar korban jatuh di Gaza. Israel disebut bertanggung jawab atas dua pertiga dari total angka kematian tragis tersebut.***




Tinggalkan Balasan