Rupiah anjlok melampaui Rp17.300 per dolar AS pada Kamis pagi, tertekan krisis Selat Hormuz yang mendorong harga minyak dan memicu pelarian modal dari aset berisiko.
KOSONGSATU.ID — Nilai tukar rupiah kembali tertekan tajam pada perdagangan Kamis (23/4/2026). Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS menguat hingga menyentuh Rp17.310 pada pukul 09.35 WIB — level terkuat dalam sepekan terakhir.
Sebelumnya, data Doo Financial Futures pada pukul 09.05 WIB mencatat rupiah dibuka melemah 74 poin atau 0,43 persen ke posisi Rp17.255. Pelemahan ini melanjutkan koreksi dari penutupan Rabu (22/4), saat rupiah ditutup melemah 38 poin ke Rp17.181 per dolar AS.
Hormuz Jadi Biang Kerok
Pemicu utama tekanan rupiah adalah eskalasi krisis di Selat Hormuz. Iran menutup kembali jalur strategis itu setelah AS menolak mencabut blokade lautnya terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Selat ini menanggung sekitar 20 persen pasokan minyak global.
Akibatnya, harga minyak Brent melonjak ke USD101,91 per barel pada Kamis — melanjutkan penguatan dari penutupan Rabu di USD98,48. Kenaikan ini memicu sentimen risk-off di pasar negara berkembang, mendorong investor beralih ke aset aman seperti dolar AS.
BI Tahan Suku Bunga, Utang Jatuh Tempo Jadi Beban
Dari sisi domestik, Bank Indonesia pada Rapat Dewan Gubernur 21–22 April 2026 mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan keputusan itu konsisten dengan upaya menstabilkan nilai tukar di tengah gejolak global akibat konflik Timur Tengah.
Namun pasar belum puas. Minat investor terhadap lelang Surat Berharga Negara terpantau melemah sepanjang 2026, mencerminkan arus keluar modal yang masih berlanjut dari pasar obligasi domestik.
Tekanan rupiah juga diperparah beban fiskal. Indonesia menghadapi jatuh tempo utang Rp833,96 triliun pada 2026 — tertinggi dalam satu dekade. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp17.125–Rp17.250 dengan kecenderungan melemah selama ketidakpastian geopolitik belum mereda.
Pelemahan rupiah turut menyeret IHSG ke zona merah. Indeks anjlok 1,41 persen ke level 7.435 pada penutupan sesi pertama Kamis (23/4/2026), dengan 440 saham tercatat melemah.***




0 Komentar