Rupiah melemah mendekati rekor terendah setelah investor asing keluar dari saham dan sentimen global menekan aset negara berkembang.
KOSONGSATU.ID — terhadap rupiah kian berat setelah investor asing melepas aset di pasar saham Indonesia. Di tengah dolar AS yang menguat dan harga energi global yang masih tinggi, rupiah bergerak di kisaran Rp17.809 per USD pada Jumat, 29 Mei 2026.
Data Trading Economics menunjukkan rupiah sempat mendekati Rp17.900 per USD pada perdagangan tipis Kamis. Sepanjang tahun berjalan, mata uang Indonesia itu melemah sekitar 6,4 persen dan masuk kelompok mata uang Asia dengan tekanan paling besar.
Asing Keluar dari Saham
Tekanan juga terasa di pasar modal. Mengutip laporan Bloomberg, investor asing mencatat jual bersih Rp1,86 triliun di pasar reguler sepanjang 18–22 Mei 2026. IHSG pada periode yang sama turun 8,35 persen ke posisi 6.162.
Reuters melaporkan posisi jual terhadap rupiah naik ke level tertinggi sejak Oktober 2022. Sentimen itu dipicu penguatan dolar AS, harga minyak yang tinggi, dan kekhawatiran terhadap negara pengimpor energi seperti Indonesia.
Kondisi ini membuat investor meminta imbal hasil lebih besar untuk memegang aset berisiko. Akibatnya, pasar obligasi dan saham sama-sama berada di bawah tekanan ketika dana global bergerak ke instrumen berbasis dolar AS.
BI Naikkan Suku Bunga
Bank Indonesia merespons tekanan itu dengan menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur 19–20 Mei 2026. BI menyebut langkah ini ditujukan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah.
Dalam siaran pers, BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,25 persen dan Lending Facility menjadi 6,00 persen. Kebijakan itu ditempuh sebagai langkah dini menjaga inflasi 2026 dan 2027 tetap dalam sasaran.
Tekanan rupiah kini menjadi sinyal penting bagi ekonomi domestik. Jika pelemahan berlanjut, risiko inflasi impor dapat meningkat, terutama pada energi, bahan baku industri, pangan impor, elektronik, hingga obat-obatan.




Tinggalkan Balasan