Namun, yang jelas, era di mana AS bisa melancarkan perang dari jarak aman tanpa risiko berarti—seperti dalam invasi Irak 2003 atau pengeboman Yugoslavia 1999—telah berakhir. Teknologi drone dan rudal presisi telah mengubah kalkulus peperangan.

Para kritikus seperti Andrew Bacevich berpendapat bahwa AS harus meninggalkan ambisi “perang abadi” dan mulai merancang kebijakan luar negeri yang lebih realistis dan berkelanjutan .

Warga dunia—terutama di Amerika, Kanada, dan Eropa—kini menghadapi pertanyaan mendasar: apakah mereka akan terus membiarkan kompleks industri militer mendikte kebijakan luar negeri, atau akankah mereka menuntut era baru bagi negara-negara berdaulat yang tumbuh subur dalam perdamaian?***


Rujukan:

  • Eisenhower, Dwight D. (1961). Farewell Address to the Nation (Pidato perpisahan tentang bahaya Kompleks Industri Militer). Washington D.C.: National Archives and Records Administration.
  • Vine, David. (2015). Base Nation: How U.S. Military Bases Abroad Harm America and the World. New York: Metropolitan Books.
  • Fischer, Joseph R. (1997). *A Well-Executed Failure: The Sullivan Campaign against the Iroquois, July-September 1779*. Columbia: University of South Carolina Press.
  • Johnson, Chalmers. (2004). The Sorrows of Empire: Militarism, Secrecy, and the End of the Republic. New York: Metropolitan Books.
  • Bacevich, Andrew. (2008). The Limits of Power: The End of American Exceptionalism. New York: Metropolitan Books.
  • Hammes, T.X. (2021). Technology and the Future of Warfare (Studi tentang biaya asimetris perang drone). Washington D.C.: National Defense University Press.