Rumah Syukur dan Rumah Pintar adalah simbol cinta tanah air. Gerakan Tarekat Shiddiqiyyah menunjukkan bahwa syukur tak boleh berhenti di bibir, tapi harus hidup dalam tindakan.


KOSONGSATU.ID—Jombang, Kamis pagi menjelang siang, 21 Agustus 2025. Di ballroom Yusro Hotel, suasana syukur terasa kental. Jemaah Tarekat Shiddiqiyyah bersama para tamu undangan berkumpul, merayakan sesuatu yang lebih dari sekadar ulang tahun kemerdekaan.

Mereka merayakan nikmat kemerdekaan bangsa sekaligus berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kini genap berusia delapan puluh tahun.

Di tengah acara tasyakkuran itu, kabar gembira diumumkan: 140 unit Rumah Syukur diresmikan dan dibagikan gratis untuk masyarakat yang membutuhkan.

Dan bagi jemaah Shiddiqiyyah, rumah bukan hanya bangunan, tapi simbol rasa cinta pada tanah air.

“Rumah syukur ini persembahan kepada bangsa Indonesia. Jangan memandang agama. Siapa pun yang layak dan butuh, kita bangunkan,” tutur Mursyid Tarekat Shiddiqiyyah, Syekh Muchammad Muchtarullohil Mujtabaa Mu’thi, di hadapan hadirin.

Ucapan itu disambut tepuk tangan panjang. Seolah mengamini pesan bahwa syukur tak boleh dibatasi sekat. Syukur kepada Allah, syukur kepada sesama manusia, syukur kepada tanah air — semua menyatu dalam gerakan nyata.

Syukur yang Membumi

Tasyakkuran di Jombang tak berhenti pada rumah. Jemaah juga menyalurkan santunan untuk 200 fakir miskin dan anak yatim, serta memberikan tali asih kepada 30 veteran pejuang.

Ibu Nyai Shofwatul Ummah (belakang, kedua dari kiri) menyerahkan santunan untuk anak yatim dan dhuafa. – Dok. Opshidmedia

Bupati Jombang, Warsubi, yang hadir dalam acara itu tak kuasa menyembunyikan rasa kagum.

“Kontribusi Shiddiqiyyah, mulai dari rumah syukur hingga santunan, memberi manfaat luar biasa bagi masyarakat,” katanya dengan mata berbinar.

Sedangkan bagi Ibu Nyai Shofwatul Ummah, momentum ini menjadi pengingat agar bangsa tidak kehilangan arah sejarahnya.

“Kemerdekaan bangsa pada 17 Agustus 1945 dan berdirinya negara pada 18 Agustus 1945 adalah nikmat agung. Jika melupakannya, kita menjadi bangsa yang tidak bersyukur,” ujarnya tegas.

Pesan itu menggema di benak para hadirin. Bahwa rasa syukur tidak cukup diucapkan dalam doa, tapi juga diwujudkan dalam tindakan sosial.