
Sarekat Islam dan Perlawanan Tanpa Kompromi
Di ruang publik, Tjokroaminoto dikenal sebagai tokoh sentral Sarekat Islam (SI). Organisasi ini memperjuangkan hak politik dan ekonomi pribumi, menantang kesewenangan kolonial Belanda serta dominasi pengusaha non-pribumi dalam perdagangan. Di bawah kepemimpinannya, SI tumbuh menjadi organisasi massa terbesar pada masa pra-kemerdekaan—mewakili denyut bumiputera dalam skala nasional.
Dalam Kongres Central Sarekat Islam yang dihadiri ratusan utusan dari puluhan cabang, Tjokro menyampaikan pidato yang kemudian bergema luas. Dengan jari telunjuk terangkat, ia menolak logika kolonial yang memandang Hindia sebagai sapi perahan—negeri yang hanya diberi makan agar susunya dapat diperas, sementara penduduk aslinya tak diberi hak bicara atas nasib sendiri.
Kata-kata itu membuat hadirin terdiam, lalu bergemuruh. Bukan sekadar pidato, melainkan artikulasi kemarahan kolektif yang lama terpendam. Dari sana, Sarekat Islam bergerak makin keras. Perlawanan yang semula humanis bertransformasi menjadi struktural dan revolusioner, seiring meningkatnya represi kolonial.
Para tokoh SI menuntut diakhirinya penindasan dalam segala bentuk—politik, ekonomi, sosial, budaya, hingga agama. Pada titik tertentu, kompromi dianggap sebagai kemewahan yang tak lagi relevan. Gerakan ini menggertak, menekan, dan memaksa kolonialisme menghadapi perlawanan terbuka.
Raja Tanpa Mahkota dan Mimpi Zelfbestuur
Sentuhan radikal itulah yang membawa nama Tjokroaminoto dikenal luas, bahkan melampaui Hindia. Di kalangan masyarakat Jawa, ia kerap dipersepsikan sebagai Ratu Adil—figur mesianik yang dinanti dalam bayang-bayang ketidakadilan. Bukan kebetulan jika gagasan zelfbestuur atau pemerintahan sendiri menjadi salah satu kepentingan nasional yang ia gaungkan.
Tjokroaminoto tak pernah memegang mahkota, tak pernah menduduki singgasana. Namun dari pidato-pidato tenangnya, dari rumah sederhana di Peneleh, dan dari keteguhan sikapnya, lahir generasi yang kelak memproklamasikan kemerdekaan.
Warisannya bukan sekadar organisasi atau murid-murid besar. Ia meninggalkan etika perjuangan: bahwa kemerdekaan adalah soal martabat, dan kepemimpinan sejati bekerja paling kuat justru ketika ia tak membutuhkan mahkota.***




0 Komentar