Fenomena ini memicu pertanyaan klasik yang selalu berulang setiap tahun: Mengapa instrumen pengendali harga milik pemerintah seolah selalu kalah cepat dibanding spekulasi pasar? Operasi pasar yang digelar di sana-sini seringkali terasa seperti pemadam kebakaran yang datang saat rumah sudah menjadi abu—terlambat dan tidak menyentuh akar masalah distribusi.

Keikhlasan yang Diuji 

Bagi banyak warga, Munggahan tahun 2026 ini adalah ujian keikhlasan sebelum puasa benar-benar dimulai. “Tahun lalu masih bisa beli dua kilo daging, tahun ini satu kilo saja harus mikir berkali-kali,” keluh salah satu warga di Pasar Kemiri Muka, Depok, Senin (16/2).

Kesenjangan terlihat jelas. Di pusat-pusat perbelanjaan mewah, restoran fine dining penuh sesat oleh mereka yang merayakan Munggahan dengan kemewahan. Sementara itu, di gang-gang sempit, piring-piring Munggahan mungkin hanya berisi lauk seadanya, namun tetap disantap dengan rasa syukur yang luar biasa.

Menanti Kepastian di Meja Isbat 

Di saat rakyat sibuk menghitung sisa saldo untuk stok sahur pertama, pemerintah baru akan menggelar Sidang Isbat pada Selasa (17/2) esok. Apakah puasa akan dimulai Rabu atau Kamis, ketidakpastian itu menambah dinamika di pasar sore ini. Banyak warga melakukan panic buying karena khawatir harga akan semakin “gila” jika hasil sidang mengumumkan puasa dimulai lebih awal.

Pada akhirnya, Ramadan tetaplah bulan yang penuh berkah. Namun, membiarkan rakyat berjuang sendirian melawan spekulan pangan setiap kali menjelang hari besar adalah ironi yang seharusnya tidak perlu dipelihara.

Keikhlasan beribadah memang urusan hamba dengan Tuhannya, tapi urusan perut dan kestabilan harga adalah mandat rakyat kepada penguasanya.

Selamat menunaikan ibadah Munggahan, meski dengan menu yang mungkin lebih sederhana tahun ini.***