Kalender tani Jawa yang lama membantu petani membaca alam kini makin sulit diandalkan karena pola musim bergeser akibat krisis iklim.
KOSONGSATU.ID – Pranata mangsa, sistem penanggalan musim masyarakat Jawa, kembali dibaca sebagai pengetahuan ekologis yang penting di tengah krisis iklim. Kalender berbasis peredaran matahari ini sejak lama membantu petani, bahkan nelayan, mengenali perubahan musim, arah angin, hingga waktu yang tepat untuk memulai kerja.
Dalam catatan sejarah—sebagaimana dikutip dari majalah Geomedia yang diterbitkan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)—pranata mangsa diresmikan Sunan Pakubuwana VII pada 22 Juni 1855.
Sementara itu, sejumlah kajian akademik menyebut sistem ini dipakai sebagai pedoman musim bagi masyarakat agraris Jawa, dengan pembacaan atas gejala langit, angin, tumbuhan, dan perilaku satwa sebagai penanda perubahan musim.
Tanda Alam yang Mulai Bergeser
Kajian ilmiah dari Journal Universitas Gadjah Mada menyebut bahwa orang Jawa tidak hanya mengenal kemarau dan penghujan. Dalam pranata mangsa, ada fase-fase yang lebih rinci seperti semplah (peralihan dari musim kemarau ke penghujan) dan pengarep-arep (peralihan dari musim hujan ke kemarau).
Ketelitian itu membuat pengetahuan lokal ini dulu efektif dipakai untuk membaca transisi musim dan mengurangi risiko salah tanam.
Namun, keteraturan itu kini makin terganggu. Sejumlah penelitian mencatat perubahan iklim membuat musim menjadi tidak menentu, sehingga tanda-tanda alam yang dahulu relatif konsisten menjadi lebih sulit dibaca. Kondisi ini membuat pranata mangsa tidak selalu setepat dulu ketika dijadikan satu-satunya pegangan musim tanam.
Riset Unsoed Angkat Lagi Kearifan Lokal
Di tengah ketidakpastian itu, tim mahasiswa Universitas Jenderal Soerdiman (Unsoed) Purwakarta, lewat Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora mengkaji kembali pranata mangsa sebagai strategi adaptasi iklim untuk ketahanan pangan.
Tim itu beranggotakan Intan Hasna Fauzani Majid, Na’ilul Husna, Novan Meirahmandita, Naufal Mu’afa, dan Muhammad Hafid Fauzan, dengan pendampingan dosen Indah Setiawati.




Tinggalkan Balasan