Prabowo-Macron sepakat perkuat alutsista dan energi hijau. RI sampaikan posisi dorong perdamaian dunia di tengah gencatan senjata Iran-Israel.


KOSONGSATU.ID – Presiden RI Prabowo Subianto memanfaatkan momen gencatan senjata antara Iran dan Israel untuk terbang ke Paris, Selasa (14/4/2026). Di Istana Élysée, ia bertemu Presiden Prancis Emmanuel Macron. 

Namun, di balik jabat tangan hangat dan jamuan santap siang mewah itu, tersimpan misi besar: mengamankan masa depan energi Indonesia di tengah konflik global yang masih membara.

Pertemuan yang berlangsung empat mata ini bukan sekadar kunjungan kehormatan. Ini adalah bagian dari strategi “blitz diplomacy” yang dilakukan Prabowo dalam sepekan terakhir—setelah sebelumnya bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow.

Gejolak Timur Tengah, Indonesia Terjepit

Konflik Iran versus Amerika Serikat dan Israel yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026 membawa dampak nyata bagi Indonesia. Harga minyak dunia meroket, Selat Hormuz—jalur vital 20 persen minyak global—diblokade Iran, dan negara-negara maju berlomba mengamankan sumber daya energi mereka sendiri.

Indonesia, sebagai negara net importir minyak, berada dalam posisi terjepit. Subsidi energi membengkak, APBN tertekan, dan pemerintah terpaksa mengeluarkan kebijakan darurat seperti efisiensi anggaran Rp80 triliun serta work from home bagi ASN.

Dalam konteks inilah kunjungan Prabowo ke Prancis harus dibaca. Bukan sekadar seremonial, melainkan upaya membangun jalur pasokan energi alternatif di tengah ketidakpastian global.

Kerja Sama yang Dihasilkan: Dari Alutsista ke Energi Hijau

Pertemuan ini menghasilkan sejumlah kesepakatan konkret. Pertama, di sektor pertahanan, Indonesia dan Prancis sepakat memperkuat kerja sama pengadaan alutsista serta transfer teknologi untuk kemandirian industri pertahanan nasional.

Kedua, di sektor energi, kedua pemimpin mendorong akselerasi transisi energi dan pengembangan energi baru terbarukan. Ini menjadi penting mengingat Prancis adalah salah satu pemimpin global dalam teknologi tenaga nuklir sipil dan energi hijau.

Ketiga, infrastruktur dan transportasi, pendidikan, serta ekonomi kreatif turut masuk dalam daftar kerja sama yang diperluas.

“Sebagai salah satu mitra penting di kawasan Eropa, Indonesia terus mendorong kerja sama berkelanjutan dengan Prancis,” demikian pernyataan resmi dari Sekretariat Presiden.

Poros Maritim vs Ketergantungan Energi

Di satu sisi, Indonesia terus menggaungkan visi Poros Maritim Dunia. Namun kenyataan pahitnya, negeri ini masih sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan yang sedang dilanda perang.

Kunjungan ke Prancis dan Rusia adalah langkah pragmatis. Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan Timur Tengah. Diversifikasi mitra energi menjadi keharusan, meskipun harus merangkul negara-negara yang tengah berseteru dengan Barat.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengonfirmasi bahwa dalam pertemuan dengan Macron, Prabowo juga menyampaikan posisi Indonesia dalam menjaga stabilitas dan mendorong perdamaian dunia.

“Selain memperkuat kerja sama dengan Pemerintah Prancis, Bapak Presiden juga akan menyampaikan posisi Indonesia dalam menjaga stabilitas dan mendorong perdamaian dunia,” kata Teddy.

Kata Kunci: “Ini untuk Mengamankan Minyak”

Pekan lalu, dalam pengarahan kabinet, Prabowo berterus terang kepada para menterinya. “Saudara-saudara, ini untuk mengamankan minyak; Saya harus pergi ke mana-mana.”

Kalimat itu merangkum esensi dari seluruh rangkaian perjalanan diplomatiknya. Dari Moskow ke Paris, dari Timur ke Barat, Prabowo sedang membangun benteng energi bagi Indonesia di tengah badai.

Salaman Hangat di Tengah Badai

Terlepas dari beratnya isu yang dibahas, pertemuan kedua pemimpin berlangsung hangat. Kedatangan Prabowo di Istana Élysée disambut dengan pasukan kehormatan. Macron berjalan menghampiri, keduanya berangkulan dan berjabat tangan.

Usai pertemuan tertutup, Macron menjamu Prabowo dengan santap siang. Sebuah simbol bahwa di tengah rivalitas geopolitik global, hubungan personal antarpemimpin tetap menjadi lem Perekat kerja sama antarnegara.***