Presiden Prabowo Subianto canangkan gerakan Gentengisasi Nasional dalam Gerakan Indonesia Asri. Para ahli menyoroti dampak kesehatan, ekonomi desa, hingga kritik keragaman material lokal.
KOSONGSATU.ID—Presiden Prabowo Subianto mencanangkan gerakan “Gentengisasi” nasional sebagai bagian dari Gerakan Indonesia Asri. Presiden menyoroti banyaknya rumah di perdesaan yang masih menggunakan atap seng, yang dinilai tidak ideal karena sifatnya yang panas, mudah berkarat, dan kurang estetis.
“Saya ingin semua atap rumah di Indonesia pakai genteng. Ini panas untuk penghuni dan berkarat,” tegas Presiden dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Senin (2/2/2026).
Dari Kesehatan hingga Ekonomi Desa
Kebijakan industrialisasi genteng di pedesaan bukan sekadar soal bahan bangunan, melainkan sebuah intervensi kebijakan publik yang visioner. Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansyah, menilai langkah ini sebagai solusi cerdas untuk mengatasi ancaman kesehatan yang selama ini terabaikan: panas ekstrem di dalam hunian.
Di iklim tropis seperti Indonesia, penggunaan atap seng sering kali menjadi jebakan panas. Seng menyerap panas matahari secara ekstrem, menciptakan lingkungan dalam ruang yang memicu heat stress. Bagi kelompok rentan, dampaknya sangat nyata.
Trubus menjelaskan, suhu ruang yang tinggi menyebabkan dehidrasi, gangguan tidur, hingga penurunan nafsu makan yang dalam jangka panjang bisa mengganggu tumbuh kembang. Sementara itu, bagi lansia, paparan panas kronis memperburuk penyakit penyerta seperti hipertensi dan gangguan jantung akibat dehidrasi yang sering tidak disadari.
Trubus menyebut kondisi ini sebagai “beban kesehatan laten”. Masyarakat mungkin tidak langsung jatuh sakit, namun kualitas hidup dan produktivitas mereka tergerus perlahan oleh lingkungan hunian yang tidak sehat.
Trubus juga menilai penggunaan genteng seseuai dengan kearifan lokal. Secara teknis, kata Trubus, genteng tanah liat memiliki keunggulan pada massa termal. Bahan ini mampu menahan dan melepaskan panas secara lebih stabil dibandingkan material logam. Menariknya, penggunaan genteng bukanlah hal baru; ini adalah warisan peradaban nusantara.
“Penggunaan genteng selaras dengan kearifan lokal yang telah ada sejak era Majapahit, bahkan jejaknya terukir abadi di relief Candi Borobudur,” ungkap Trubus.
Selain aspek kesehatan, menurut Trubus, kebijakan “gentengisasi” ini membawa misi ekonomi yang kuat bagi generasi muda di desa. Seperti:
- Industrialisasi Lokal: Menggerakkan kembali industri genteng skala rumahan menjadi industri desa yang berkelanjutan.
- Koperasi Penggerak: Memberdayakan koperasi sebagai wadah ekonomi warga.
- Efisiensi Rumah Tangga: Dengan suhu rumah yang lebih sejuk, beban pengeluaran masyarakat untuk listrik (pendingin ruangan) dan kesehatan dapat ditekan.
Faktor Biaya, Keberagaman Daerah, dan Housing Backlog
Kebijakan “Gentengisasi” yang tengah diwacanakan pemerintah menuai kritik tajam. Pengamat perumahan dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Jehansyah Siregar, menilai kebijakan ini kurang efektif karena mengabaikan keragaman material lokal dan kebutuhan riil masyarakat di berbagai daerah.




Tinggalkan Balasan