Dari luar negeri, tekanan datang langsung dari Gedung Putih. Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyebut Mojtaba sebagai pilihan yang “tidak dapat diterima” dan mengancam bahwa pemimpin baru ini tidak akan bertahan lama tanpa restu Washington.

Namun, ancaman itu justru dibalas dengan sindiran tajam oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Ia menegaskan bahwa nasib Iran ditentukan oleh bangsanya sendiri, bukan oleh intervensi pihak luar, terutama mereka yang ia sebut sebagai “geng Epstein.”

Menanti Jalur Baru di Tengah Perang

Kini, dunia menunggu apakah Mojtaba akan tetap pada jalur konfrontasi absolut atau membuka celah diplomasi jika perang mulai mereda. Meski dikenal tanpa kompromi, beberapa analis melihat adanya potensi perubahan jangka panjang jika ia mampu membawa Iran melewati krisis eksistensial ini.

Tugas pertama sang pemimpin baru sudah di depan mata: menavigasi negara yang terluka akibat perang pekan kedua, sembari membuktikan bahwa “Jalan Khamenei” tetap tegak berdiri meski sang pionir telah tiada.

Penunjukan Mojtaba Khamenei bukan sekadar suksesi keluarga, melainkan pertaruhan besar bagi masa depan kedaulatan Iran di mata dunia. ***