Patung Bung Karno membaca di Istana Gebang jadi pengingat keras. Literasi adalah fondasi, bukan sekadar pajangan bagi politisi.
KOSONGSATU. ID – Salah satu perubahan paling mencolok dari hasil renovasi Istana Gebang, rumah masa kecil Proklamator RI Bung Karno di Kota Blitar, adalah hadirnya sebuah mahakarya baru. Alih-alih berpose menggelegar saat berpidato, patung tersebut menampilkan sosok Ir. Soekarno yang sedang duduk tenang di kursi sambil membaca buku.
Visualisasi ini bukan sekadar estetika arsitektur. Di baliknya, tersimpan pesan tajam yang menembus ruang dan waktu, mewariskan semangat belajar dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan kepada generasi penerus bangsa.
Peresmian Patung Soekarno Membaca di Istana Gebang Blitar
Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, meresmikan langsung renovasi Istana Gebang beserta patung ikonik tersebut pada Senin, 15 Juni 2026. Momen ini menjadi tonggak penting dalam merawat ingatan sejarah bangsa.
Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Deni Wicaksono, mengungkapkan bahwa perubahan konsep patung ini lahir dari arahan langsung Megawati. Tujuannya sangat jelas: menghadirkan Bung Karno sebagai figur pembelajar. Pengetahuan dan buku adalah fondasi utama perjuangan Sang Proklamator. Di tengah gempuran teknologi dan budaya serba instan yang berpusat pada gawai, monumen ini menantang anak muda untuk kembali membangun fondasi karakter yang kuat melalui literasi.
Patung Bung Karno Membaca Dipasang di Mana Saja Selain Istana Gebang
Pose Sang Proklamator yang sedang menyelami buku nyatanya tidak hanya tegak berdiri di Blitar. Publik dapat menemukan ikon serupa di beberapa lokasi strategis lainnya:
- Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Jakarta: Diresmikan pada 20 Mei 2021, patung perunggu seberat dua ton ini berdiri kokoh untuk mengingatkan para calon pemimpin bangsa di Lemhannas bahwa gagasan revolusioner selalu lahir dari kebiasaan membaca.
- Plaza Manahan, Solo: Sejak 2016, warga Solo sudah akrab dengan patung perunggu Bung Karno yang tengah duduk membaca buku, warisan dari era kepemimpinan Wali Kota FX Hadi Rudyatmo.
Filosofi Patung Menurut Dunadi
Maestro pematung asal Yogyakarta, Dunadi, adalah sosok di balik karya monumental di Istana Gebang dan Lemhannas. Ia sengaja menanamkan filosofi mendalam pada karyanya. Menurut Dunadi, buku mewakili tradisi intelektual yang melahirkan pemikiran besar tentang kemerdekaan, kebangsaan, dan perlawanan terhadap penjajahan.
Patung setinggi empat meter berbahan logam tersebut melewati proses pengerjaan selama enam bulan. Dunadi ingin publik melihat sisi lain Bung Karno—seorang pemikir yang menjadikan buku sebagai sumber inspirasi perjuangan. Ia berharap karya ini menginspirasi masyarakat untuk merawat budaya literasi yang krusial bagi kemajuan bangsa.
Fakta Sejarah Soekarno Seorang Kutu Buku dan Kesaksian Rachmawati Soekarnoputri
Sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa Soekarno adalah pembaca yang rakus (voracious reader). Rachmawati Soekarnoputri, sang putri, dalam memoarnya Bapakku Ibuku, bersaksi bagaimana buku menjejali setiap sudut Istana Negara—mulai dari tempat tidur, kursi, hingga kamar mandi berubah fungsi menjadi perpustakaan pribadi.
Dokter pribadinya, Mahar Mardjono, juga sering mendapati Soekarno berbaring di serambi istana yang dikelilingi surat kabar dan majalah asing. Ketertarikan membaca ini bermula dari gemblengan H.O.S. Tjokroaminoto dan akses ke perpustakaan theosofi di Surabaya.
Dari lembaran-lembaran kertas itulah, mental Soekarno berdialog dengan pemikiran Thomas Jefferson hingga Karl Marx, membentuknya menjadi seorang nasionalis yang menyala-nyala sekaligus penulis produktif yang merujuk ratusan tokoh dunia dalam karya-karyanya.
Arahan Megawati Soal Membaca Buku Kepada Kader
Kesadaran akan pentingnya literasi ini kemudian diinstitusionalkan. Megawati Soekarnoputri mewajibkan seluruh kader PDIP, terutama anggota legislatif dan kepala daerah, untuk menjadikan buku sebagai makanan sehari-hari.
Tradisi ini mewujud dalam Sekolah Partai, di mana kader wajib mendalami ideologi melalui buku-buku pokok seperti Indonesia Menggugat, Lahirnya Pancasila, dan Sarinah. Gerakan ini bahkan meluas ke masyarakat melalui program Banteng Mengajar, memastikan distribusi pengetahuan menyentuh akar rumput.
Kritik Kepada Pejabat Politisi Masa Kini
Sayangnya, realitas politik hari ini sering kali menampilkan ironi yang menyayat hati. Ketika para pendiri bangsa menjadikan politik sebagai arena pertarungan gagasan hasil dari dialektika bacaan, panggung politik modern justru riuh oleh pragmatisme, pencitraan media sosial, dan baliho raksasa.
Politisi masa kini kerap menjauh dari buku. Dampaknya teramat fatal: lahirnya kebijakan yang reaktif, dangkal, dan cacat logika karena miskin kajian akademis. Pidato politik kering dari kutipan pemikiran besar, tergantikan oleh jargon populis yang bising namun hampa makna.
Mengapa Pejabat Harus Gemar Membaca
Membaca bagi seorang pejabat bukan lagi sekadar hobi pengisi waktu luang, melainkan sebuah kebutuhan mutlak. Ada beberapa alasan kuat mengapa hal ini tidak bisa ditawar:
- Memperluas Wawasan: Buku membantu pejabat memahami akar persoalan, sejarah masalah, dan menemukan alternatif solusi dari pengalaman pihak lain, bukan sekadar membaca laporan teknis yang sumir.
- Menumbuhkan Empati: Karya sastra dan biografi melatih kepekaan batin. Pejabat yang literat akan tercegah dari kebiasaan merendahkan atau menyakiti hati rakyat melalui ucapan dan pernyataannya.
- Kekuatan Public Speaking: Wawasan yang kaya akan memudahkan penyusunan argumen dan narasi kebijakan dengan bahasa yang elegan serta bermakna.
- Membangun Kredibilitas: Rakyat lebih menghormati dan memercayai pemimpin yang berwawasan luas, yang mampu mengutip referensi bernilai dalam setiap pidato publiknya.
Literasi adalah Tanggung Jawab Moral Pejabat
Pejabat harus meletakkan literasi sebagai tanggung jawab moral yang mengikat. Di tengah krisis keteladanan, tokoh seperti Presiden Prabowo Subianto patut diapresiasi karena konsistensinya membumikan kegemaran membaca sejarah, strategi, hingga sastra—yang tercermin jelas dalam kedalaman narasi pidatonya.
Bangsa yang literat hanya bisa lahir dari rahim pemimpin yang literat. Pejabat tidak cukup hanya melek teknologi atau ekonomi; mereka wajib melek literasi. Buku melatih mereka menyintesiskan pemikiran, mengolah pengetahuan, dan pada akhirnya, berbicara dengan bijaksana.
Refleksi Penutup: Di Manakah Para Penerus Itu Berada?
Kehadiran patung Bung Karno yang tengah khusyuk membaca di Istana Gebang seharusnya menjadi tamparan keras bagi ekosistem politik kita. Menjadi politisi bukan sekadar seni mengumpulkan suara mayoritas, melainkan memimpin peradaban menuju arah yang lebih terang.
Ironisnya, saat ini banyak sekali politisi yang dengan bangga berteriak mengklaim diri sebagai seorang “Soekarnois”, namun justru malas mengalokasikan uangnya untuk membeli buku, apalagi meluangkan waktunya untuk membaca.
Mengagungkan Soekarno tanpa mewarisi tradisi intelektualnya adalah sebuah pengkhianatan sejarah. Jika penerus perjuangan Soekarno hari ini enggan menyelami lautan pengetahuan, maka politik kita selamanya hanya akan terjebak sebagai ajang perebutan kekuasaan yang tunagagasan.***






Tinggalkan Balasan