“Kami juga siapkan satu Batalyon Pengamanan (Force Protection Unit) untuk melindungi tim medis dan insinyur tersebut. Rules of Engagement (ROE) sedang digodok ketat agar pasukan kita tidak terseret kontak tembak dengan IDF (Militer Israel) atau faksi lokal,” ujar Jenderal Agus di Mabes TNI Cilangkap, Selasa (10/2/2026).
Diplomasi Lorong Tikus
Kesiapan ini tidak muncul tiba-tiba. Sejak Juni 2024 di Shangri-La Dialogue, Prabowo telah meletakkan fondasinya, kala dia masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan RI.
Puncaknya pada 20 Januari 2026, Menteri Luar Negeri RI melakukan diplomasi maraton dengan Menlu Yordania dan Mesir di Kairo. Hasilnya: kesepakatan informal bahwa Indonesia diizinkan masuk melalui Rafah jika mandat PBB keluar, dengan status khusus sebagai pasukan pengaman rekonstruksi.
Analisis: Antara Pahlawan dan Risiko Domestik
Pengamat Timur Tengah, Dina Sulaeman, menilai langkah ini sebagai pisau bermata dua.
“Ini perjudian besar. Jika berhasil, Indonesia jadi pahlawan dunia Islam dan posisi tawar kita di mata Barat akan melesat. Tapi jika gagal—ada tentara gugur atau terjebak konflik—legitimasi domestik pemerintah bisa runtuh seketika,” analisis Dina dalam wawancara di TV Nasional, Selasa (10/2/2026).
Selain risiko nyawa, tantangan anggaran juga membayangi. Operasi ini diproyeksikan menelan triliunan rupiah APBN jika reimbursement dari PBB terlambat cair, di tengah kondisi fiskal 2026 yang sedang ketat.
Kini, bola ada di tangan PBB. Namun satu hal yang pasti: Indonesia di bawah Prabowo tidak lagi sekadar mengirim doa, tetapi mengirim serdadu untuk menjaga perdamaian dunia.***




5 Komentar