
Toyyip tak kuasa menahan air mata. “Dulu terus kehujanan, genteng tidak bisa diperbaiki. Sekarang dibangunkan rumah sama OPSHID. Matur nuwun sanget,” ucapnya, dengan suara bergetar.
Rumah baru itu tengah dibangun. Berdinding bata, berlantai keramik, beratap plafon yang kokoh. Tak sekadar layak, bagi Toyyip rumah itu terasa mewah. OPSHID berjanji menyelesaikannya sampai tuntas, agar keluarga ini akhirnya bisa tidur dengan tenang tanpa dihantui rasa takut.
“Terima kasih. Saya sampai menangis saking senangnya,” tambah Ningsih.

Toyyip menanti hari ketika hujan turun bukan lagi jadi mimpi buruk, berubah menjadi lantunan syukur di rumah barunya. Hunian yang lahir dari doa panjang, keringat, dan tangan-tangan yang bergotong royong.***
*Sumber: OPSHIDMEDIA



Tinggalkan Balasan