Setiap hujan deras, Toyyip dan keluarganya terpaksa keluar rumah karena takut roboh. Kini, lewat tangan OPSHID, mimpinya punya rumah layak akhirnya jadi kenyataan.
KOSONGSATU.ID—Rumah Toyyip (45) di Dusun Panggendingan, Desa Tapen, Jombang, selama ini tak pantas disebut sebagai ‘tempat berteduh’. Pasalnya, begitu hujan deras mengguyur, genteng bocor di sana-sini, air merembes masuk, dan anak-anaknya berebut tempat yang kering.
Tak jarang, keluarga ini justru lari keluar rumah karena khawatir bangunan reyot itu ambruk menimpa mereka.
Bagi Toyyip, pengalaman itu selalu meninggalkan luka di hati. Ia merasa gagal sebagai kepala keluarga. Tak mampu menghadirkan rumah layak bagi istrinya, Purwaningsih (31), dan keenam anaknya.
Sejak menikah pada 2014, mereka tinggal di rumah warisan nenek Ningsih—bangunan tua yang makin rapuh dari tahun ke tahun itu.
Untuk menghidupi keluarga, Toyyip bekerja serabutan: mengatur lalu lintas di jalanan, mengamen, hingga memulung barang rongsokan. Ningsih pun ikut mencari nafkah dengan menjadi asisten rumah tangga. Semua dilakukan demi satu hal: memastikan anak-anak mereka tetap bisa bersekolah.

“Saya ingin berdikari membangun rumah sendiri. Sudah mencoba, tapi tidak ada yang mendukung. Sampai punya anak enam, ya rumah saya tetap begini saja,” kata Toyyip lirih, sekitaran awal September lalu—sebelum rumahnya disambangi orang-orang ‘asing’ yang tetiba datang untuk merenovasi rumahnya.
Kondisi rumah warisan itu kian mengenaskan. Atap runtuh, genteng berlubang, setiap hujan deras rumah seakan jadi kolam. “Kalau hujan deras pasti bocor. Gentengnya banyak yang rusak. Anak-anak berebut tempat yang kering,” kenang Toyyip.
Hingga suatu hari, tiga pemuda datang memperkenalkan diri sebagai anggota Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID). Mereka membawa kabar yang membuat Toyyip tertegun: keluarganya terpilih sebagai penerima bantuan Rumah Syukur, program nasional yang membangun hunian gratis bagi warga miskin.
Ya, rumah Toyyip masuk dalam daftar proyek gotong royong nasional Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah, yang membangun 97 rumah serentak di 17 provinsi.

Toyyip tak kuasa menahan air mata. “Dulu terus kehujanan, genteng tidak bisa diperbaiki. Sekarang dibangunkan rumah sama OPSHID. Matur nuwun sanget,” ucapnya, dengan suara bergetar.
Rumah baru itu tengah dibangun. Berdinding bata, berlantai keramik, beratap plafon yang kokoh. Tak sekadar layak, bagi Toyyip rumah itu terasa mewah. OPSHID berjanji menyelesaikannya sampai tuntas, agar keluarga ini akhirnya bisa tidur dengan tenang tanpa dihantui rasa takut.
“Terima kasih. Saya sampai menangis saking senangnya,” tambah Ningsih.




Tinggalkan Balasan