Contoh Nyata: OPSHID dan Rumah Syukur
Salah satu contoh paling konkret dan menginspirasi datang dari OPSHID FKYME (Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah Front Ketuhanan Yang Maha Esa). Sejak 2003, mereka konsisten membangun rumah syukur layak huni bagi masyarakat miskin dua kali setahun—tanpa satu rupiah pun dari dana pemerintah.
Gerakan ini dimulai sebagai santunan di momen Sumpah Pemuda, lalu bertransformasi pada 2008 menjadi pembangunan rumah. Tahun pertama, hanya satu rumah berdiri di Jombang. Tapi, pada 2010, jumlah itu melonjak jadi 31 rumah, termasuk 29 unit yang dibangun serentak di berbagai daerah atas arahan langsung dari Mursyid Tarekat Shiddiqiyyah, Syekh Muchammad Muchtarullohil Mujtaba Mu’thi.
Sejak itu, program berjalan rutin. Rata-rata 20 rumah dibangun setiap tahun, hingga mencapai puncaknya pada 2024: lebih dari 70 unit Rumah Syukur Layak Huni (RSLH) dibangun serentak di berbagai kabupaten.

Dan ini bukan sekadar bedah rumah. OPSHID membongkar total rumah lama, lalu membangunnya kembali dari nol, lengkap dengan listrik, air bersih, perabot, bahkan taman. Beberapa rumah bahkan sudah setara smart home modern, seperti yang dibangun di Sukabumi.
Semua ini dibiayai dengan patungan anggota OPSHID se-Indonesia, ditambah stimulan kecil dari PT Sehat Tentrem Jaya Lestari (sekitar Rp4 juta per rumah). Tidak ada utang, tidak ada birokrasi. Hanya semangat syukur dan gotong royong.
OPSHID memberi contoh bahwa gotong royong bisa jadi gerakan nasional, tanpa harus menunggu negara bergerak.
Saatnya Berhenti Tunggu dan Mulai Gerak
Gotong royong bukan sekadar wacana. Ia bisa jadi sistem. Bisa jadi gerakan. Bisa jadi budaya baru yang menjawab persoalan akut masyarakat bawah. Kita hanya perlu berhenti berpikir bahwa pemerintah adalah satu-satunya penolong.
Kita bisa jadi solusi untuk satu rumah tahun ini. Lalu lima tahun lagi, seratus rumah. Dan itu dimulai dari satu hal: niat.




Tinggalkan Balasan