“Kalau kita memastikan perkembangan ekonomi baik, likuiditas di sistem cukup, dan BI memonitor kondisi nilai tukar, maka kerja sama yang baik antara pemerintah dan BI sangat penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar,” kata Purbaya.

Ia menambahkan, jika koordinasi tersebut berjalan baik, maka dampak gejolak pasar global dapat dikelola dengan lebih terkendali.

Subsidi Energi Dinilai Masih Aman

Purbaya juga menanggapi kekhawatiran terkait lonjakan harga minyak global terhadap anggaran subsidi energi pemerintah.

Ia menyatakan kondisi fiskal Indonesia masih cukup kuat untuk menyerap kenaikan harga energi dalam beberapa hari terakhir.

“Kita masih aman, masih kuat. Kenaikan ini baru terjadi beberapa hari,” ujarnya.

Menurutnya, perhitungan subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dilakukan untuk periode satu tahun penuh.

Perhitungan tersebut menggunakan asumsi rata-rata harga minyak sekitar USD 70 per barel.

“Subsidi energi dihitung untuk satu tahun penuh, dengan asumsi rata-rata harga sekitar USD 70 per barel. Jadi kenaikan beberapa hari ini belum cukup mengubah anggaran kita. Kita masih bisa menyerapnya,” kata Purbaya.

Pemerintah optimistis koordinasi kebijakan yang erat akan menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi global yang terus berkembang. ***