Gus Dur memuji sistem politik Iran sejak 1984 sebagai penyatuan tauhid dan siyasah. Kini, pandangan itu terbukti saat Iran menjadi saksi atas genosida di Gaza dan konsisten melawan imperialisme di tengah fragmentasi dunia.


KOSONGSATU.ID – Nama KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur selalu lekat dengan ketajamannya dalam membaca konstelasi dan realitas global. Pada 12 Maret 1983, Gus Dur menulis sebuah artikel bernas di majalah Tempo berjudul Israel: Cukupkah Momentumnya?

Tulisan ini lahir sebagai respons atas tragedi Sabra dan Shatila—pembantaian keji terhadap pengungsi Palestina di Lebanon pada tahun 1982.

Saat itu, Gus Dur menyoroti pengakuan “kesalahan tidak langsung” oleh Komisi Kahan Israel. Baginya, pengakuan tersebut adalah langkah penting, namun ia melontarkan sebuah pertanyaan yang kini menjelma menjadi ramalan sejarah: apakah pengakuan ini akan mengubah struktur politik Israel, atau hanya menjadi jeda sesaat sebelum mereka kembali ke jalur kekuasaan yang brutal?

Politik Netanyahu: Puncak Garis Keras yang Diramalkan

Sejarah pada akhirnya menjawab kegelisahan Gus Dur dengan sangat getir. Apa yang dahulu ia baca sebagai kecenderungan menguatnya faksi garis keras, kini mencapai puncaknya di bawah kepemimpinan Benjamin Netanyahu.

Narasi keamanan absolut, ekspansi wilayah, dan pendekatan militeristik telah menjadi arus utama kebijakan Israel.

Gus Dur pernah memperingatkan bahwa ketika sebuah bangsa kehilangan keberanian untuk bersikap adil, ia sesungguhnya sedang menggerus fondasi moralnya sendiri. Rezim Netanyahu secara gamblang mencerminkan peringatan ini.

Di bawah kendalinya, ruang untuk dialog damai tertutup rapat, digantikan oleh ambisi politik jangka panjang yang menihilkan martabat kemanusiaan.

Pengkhianatan Perjanjian: Dari Lebanon hingga Islamabad

Realitas hari ini di Lebanon menunjukkan pola repetitif yang sejak lama dikritik Gus Dur: kegagalan menghargai momentum moral. Di saat perundingan gencatan senjata sedang diupayakan di Islamabad, militer Israel terus membombardir wilayah Lebanon.