Bagi penderita diabetes tipe 2 atau mereka yang berisiko mengalami sindrom metabolik, karakter ini krusial. Energi yang stabil berarti fluktuasi gula darah lebih terkendali, kebutuhan insulin lebih moderat, dan beban metabolik yang lebih ringan bagi tubuh.
Uwi ungu juga menyumbang mikronutrien penting. Kandungan kaliumnya tergolong tinggi, membantu keseimbangan elektrolit dan fungsi kardiovaskular. Pigmen antosianin yang memberi warna ungu tidak sekadar estetika; ia bekerja sebagai antioksidan yang melindungi sel dari stres oksidatif.
Dalam jangka panjang, kombinasi ini—energi stabil, kesehatan usus, dan perlindungan metabolik—menjadikan uwi ungu bukan sekadar pangan pengganjal lapar, melainkan pangan fungsional.
Pangan Lama, Tantangan Baru
Keunggulan uwi ungu justru terasa paling relevan di tengah krisis pangan dan iklim. Ia tumbuh relatif adaptif, tidak sebergantung padi pada air, dan dapat disimpan lebih fleksibel. Di saat sistem pangan modern bergantung pada komoditas berindeks glikemik tinggi dan rantai pasok panjang, uwi menawarkan logika sebaliknya: lokal, lambat dicerna, dan menyehatkan.
Ironisnya, justru sifat “tidak instan” inilah yang membuatnya tersisih dari kebijakan dan pasar. Padahal, di tengah meningkatnya penyakit metabolik dan kerentanan pangan, karakter gizi yang stabil bukan kekurangan—melainkan kebutuhan.
Uwi ungu seolah mengingatkan bahwa pangan terbaik tidak selalu yang paling cepat memberi energi, melainkan yang paling cermat bekerja sama dengan tubuh. Di situ, masa lalu pangan Nusantara justru bertemu dengan masa depan kesehatan.***
-
Dirangkum dari berbagai sumber.




Tinggalkan Balasan