Gandum bukan tanaman utama Nusantara. Ketergantungan terhadap terigu baru terbentuk ketika impor, penggilingan, dan industri makanan berkembang sejak pertengahan abad ke-20.
KOSONGSATU.ID — Masyarakat Nusantara selama berabad-abad memenuhi kebutuhan karbohidrat tanpa bergantung pada tepung terigu. Pilihan pangannya mengikuti tanaman yang tumbuh di lingkungan masing-masing: beras di banyak wilayah barat, sagu di timur, serta jagung dan umbi-umbian di berbagai daerah.
Terigu jarang dikonsumsi bukan karena masyarakat masa lalu menolak gandum. Persoalannya lebih mendasar: gandum bukan tanaman tropis yang secara alami dibudidayakan luas di Indonesia.
Tanaman tersebut tumbuh lebih baik di wilayah subtropis dengan suhu dan panjang penyinaran tertentu. Gandum memang dapat ditanam di sejumlah dataran tinggi Indonesia, tetapi hasil, skala lahan, dan biaya produksinya belum mampu memenuhi kebutuhan industri.
Akibatnya, hampir seluruh gandum yang digiling menjadi tepung terigu harus didatangkan dari luar negeri.
Dari Pangan Lokal ke Gandum Impor
Sebelum terigu tersebar luas, masyarakat mengolah sagu, singkong, talas, ubi jalar, jagung, sorgum, ganyong, garut, pisang, dan aneka umbi lainnya.
Bahan tersebut tidak selalu dikonsumsi dalam bentuk utuh. Singkong diolah menjadi gaplek, tiwul, dan tepung tapioka. Sagu dibuat menjadi papeda atau berbagai kue, sedangkan jagung ditumbuk menjadi nasi jagung.
Keragaman itu memperlihatkan bahwa sumber karbohidrat masyarakat tidak seragam. Pola konsumsi dibentuk oleh keadaan tanah, iklim, tradisi, serta tanaman yang tersedia di setiap wilayah.
Perubahan mulai berlangsung lebih cepat setelah Indonesia menerima bantuan pangan berupa gandum, tepung terigu, dan bulgur dari Amerika Serikat sejak dekade 1950-an.
Kajian sejarah yang dimuat jurnal Lembaran Sejarah Universitas Gadjah Mada mencatat pembentukan pasar gandum domestik semakin kuat pada 1970-an. Pemerintah mengatur impor, penggilingan, distribusi, dan harga tepung terigu melalui Badan Urusan Logistik atau Bulog.
Pabrik penggilingan gandum berskala besar mulai beroperasi pada 1971. Ketersediaan tepung yang stabil kemudian menopang pertumbuhan industri mi, roti, biskuit, serta makanan ringan.
Dengan demikian, dominasi terigu bukan semata-mata perubahan selera. Infrastruktur industri, kebijakan impor, distribusi, dan produksi pangan massal ikut membentuk kebiasaan konsumsi baru.
Impor Mencapai 10 Juta Ton
Badan Pusat Statistik mencatat Indonesia mengimpor sekitar 10,08 juta ton biji gandum dan meslin sepanjang 2024. Jumlah itu turun sekitar 10,2 persen dibandingkan 2023 yang mencapai 11,23 juta ton, tetapi tetap menunjukkan besarnya kebutuhan domestik.
Artinya, setiap roti, mi, biskuit, atau produk lain berbasis terigu juga membawa ketergantungan terhadap pasokan internasional. Gangguan produksi, perang, biaya angkutan, dan perubahan nilai tukar dapat memengaruhi harga bahan bakunya di Indonesia.
Terigu disukai industri karena mengandung gluten, yakni jaringan protein yang membuat adonan lentur, mengembang, dan mampu mempertahankan bentuk. Karakter ini sulit digantikan sepenuhnya oleh tepung singkong, sagu, atau umbi tanpa penyesuaian resep dan teknologi.
Namun, tidak semua produk membutuhkan terigu murni. Penelitian Balai Penelitian Tanaman Palma menunjukkan pati sagu dapat menggantikan hingga 30 persen terigu dalam formulasi roti manis dan masih dapat diterima oleh panelis.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pangan lokal tidak harus diposisikan sebagai pengganti total. Substitusi sebagian saja sudah dapat mengurangi kebutuhan terigu sekaligus membuka pasar bagi hasil pertanian dalam negeri.
Diversifikasi, Bukan Romantisasi Masa Lalu
Kehidupan masyarakat sebelum terigu juga tidak otomatis lebih sehat. Mutu pola makan tetap ditentukan oleh jumlah energi, kecukupan protein, vitamin, mineral, keamanan pangan, serta keberagaman makanan—bukan sekadar ada atau tidaknya gandum.
Pelajaran yang relevan justru terletak pada keragaman sumber pangan. Indonesia tidak perlu meninggalkan terigu, tetapi dapat mengurangi risiko apabila tidak bergantung berlebihan pada satu komoditas impor.
Buletin Konsumsi Pangan Kementerian Pertanian mencatat skor Pola Pangan Harapan Indonesia meningkat dari 86,3 pada 2020 menjadi 93,5 pada 2024. Meski membaik, pemerintah masih menempatkan pengurangan dominasi beras dan terigu serta peningkatan konsumsi umbi, buah, sayur, dan pangan hewani sebagai agenda diversifikasi.
Pangan lokal karena itu bukan sekadar warisan kuliner. Dengan riset, standardisasi, teknologi pengolahan, dan pasar yang memadai, sagu, singkong, sorgum, jagung, serta umbi-umbian dapat menjadi bagian dari strategi mengurangi kerentanan pangan Indonesia.***






Tinggalkan Balasan